ASUS ROG GX800, Laptop Spek Dewa Tergila Yang Pernah Ada, Khusus untuk Pangeran Arab!

Surabaya sedang mendung. Dari pagi hari, matahari tak menampakkan wajahnya. Hampir lupa, saya punya janji dengan Kemal di kedai kopi. Tanpa pikir panjang saya turun ke bawah, menuju kedai kopi yang berada di sudut lobby. Setelah memesan Latte Macchiato, saya melangkah menuju kursi yang empuk. Sambil menunggu Kemal dan kopi, saya membuka laptop ASUS dan mulai browsing.

Membaca berita teknologi adalah hal yang selalu saya lakukan setelah terkoneksi ke internet. Mata saya terbelalak, membaca artikel yang menuliskan ASUS ROG GX800, the craziest laptop ever built!. Penasaran saya klik dan memulai membaca beritanya. Saya mendekatkan wajah ke layar, heran dan termenung. Seakan tak percaya kalau ada laptop yang dibanderol mendekati harga mobil.

Laptop macam apa itu? kurang aja sekali spesifikasinya, bahkan sudah lebih mahal dari mobil low-end!

Lamunan saya terhenti ketika Kemal datang menyapa. Tak lama kemudian dua gelas Latte Macchiato disajikan di atas meja saya. Ternyata Kemal juga memesan kopi yang sama.

“Mal, kamu percaya ngga kalau ada sebuah notebook gaming yang banderol harganya mendekati satu unit mobil?”

“Ah, yang bener aje. Kagak ada lah!” Kemal ngga percaya, dia melongo dan mengeryitkan dahinya. Tanpa disuruh dia mendekatkan wajahnya ke layar laptop.

“Untuk apa menciptakan perangkat semahal itu hanya untuk main game?”

“Wah kira-kira laptop kaya gitu seperti apa kemampuannya ya?”

“Pasti yang mampu beli cuma Pangeran Arab nih.”

Pertanyaan-pertanyaan itu hadir begitu saya dari mulut kami berdua, ketika membaca beberapa artikel, review dan video tentang laptop ini.

“Kenapa laptop gaming seperti ini kok mulai booming ya, Mal? Itu sampai si Bayu Skak, Youtubers terkenal itu, pakai laptop ASUS Republic of Game (ROG) ini!” Saya memulai pembicaraan.

“Wajar saja karena memang kehadiran perangkat gaming kelas premium, yang lazimnya dibanderol dengan harga puluhan juta mulai booming belakangan ini. Tren menggunakan laptop gaming ini booming semenjak banyak orang yang memanfaatkan jaringan internet. Emang itu laptop ASUS ROG seri berapa, Lam? Kok kamu kayaknya penasaran banget!”

“Ini lho Mal, notebook gaming ini bernama ASUS ROG GX800, punya spek “dewa” dan ditujukan untuk para “Pangeran Arab”. Mau tahu ngga kelebihan ASUS ROG GX800 ini, Mal?, saya baru selesai membaca review dan menonton video review di Youtube. Lengkap dah pokoknya!”

Obrolan kami semakin seru sambil menyeruput kopi Latte Macchiato. Hujan turun deras membuat perbincangan kami semakin khusyu’.

Penyempurnaan Desain, Penyempurnaan Mesin

“Begini, Mal!” Saya mulai bercerita ke Kemal.

Secara keseluruhan, reka bentuk alias basis desain dari ASUS ROG GX800 sejatinya hampir serupa dengan pendahulunya ASUS ROG GX700. Bahkan sepertinya, ASUS seolah ingin memberikan identitas wujud yang seragam bagi perangkat-perangkat gaming machine premium buatannya dengan merancang bodi mereka hampir sama persis.

Sekilas, bentuknya sama dengan edisi sebelumnya: ASUS ROG GX700. Namun jelas, isinya: BEDA!

Dilihat sepintas ASUS ROG GX800 pun tampak hampir sama dengan ROG G752, mesin gaming seri high-end. Pasalnya, notebook dengan pendingin watercooling terpisah ini memiliki warna metallic grey atau abu-abu mengkilap. Pada bagian tengah, terdapat logo ASUS beserta dua garis tegas dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat yang bisa menyala dengan sangat keren.

Panel LID atau covernya terbuat dari aluminium, pun begitu dengan area keyboard serta palm rest. Sementara bodi bagian bawah, khususnya cover penutup untuk mengakses kompartemen bagian dalam tempat menyimpan HDD, SSD, dan RAM terbuat dari material plastik khusus.

Meski sebelumnya dikatakan penampilan luar dari GX800 dan seri notebook gaming premium ASUS yang lain hampir sama persis, hal ini tidak terjadi pada komponen bagian dalamnya. Perusahaan yang dinahkodai oleh Jerry Shen ini, benar-benar mengganti hampir seluruh hardware penting pada perangkatnya itu dengan teknologi terbaru. Hampir bisa dibilang, suksesor ASUS ROG GX700 tersebut bermandikan teknologi anyar yang paling update sekarang ini.

Yes! Betul sekali, ASUS ROG GX800 bermandikan teknologi paling termuktahir!

“Kamu coba deh bisa perhatikan gambar ini, ASUS ROG GX800 memiliki luas penampang layar (display) yang lebih besar daripada GX700 yakni 18,4 inci. Kemampuannya komponen pengolah grafis serta kecepatan maksimum prosesornya juga diperbarui menjadi lebih gahar.”

Kartu grafis yang digunakan bertipe 2 Way SLI GTX1080. Artinya ada dua buah VGA card GTX 1080 yang ditanam di dalam notebook, kemudian performa dan kinerja dari keduanya digabungkan untuk menghasilkan satu kekuatan yang lebih besar.

“Satu buah Nvidia GTX 1080 sendiri saja sudah memiliki kekuatan yang sangat gahar, bayangkan bila ada dua buah GTX1080 yang kekuatannya digabungkan? Pasti semakin gahar, Mal! Secara spefikasi GTX 1080 memiliki CUDA Core sebanyak 2560, sementara base clock 1607 MHz dan boost clock 1733 MHz.  Satu buah GTX 1080 memiliki VRAM sebesar 8 GB GDDR5X dengan jalur memori bus selebar 256 bit berkecepatan 10 Gbps.”

Tentu saja graphic card kelas teratas dari Nvidia ini telah dibekali dengan fitur VR Ready serta beberapa teknologi lainnya antara lain Nvidia G-Sync, Vulkan API, OpenGL dan lainnya. Semua fitur tersebut berguna untuk memaksimalkan serta mengoptimalkan efek-efek di dalam game agar bisa berjalan mulus ketika dimainkan. Saatnya mengatakan selamat tinggal pada ‘lag’!

“Gile, itu baru graphic card-nya ya, Lam. Processornya seperti apa ya?” Kemal bertanya sambil memperbaiki tempat duduknya.

“Ah, jauh lah kalau dibanding dengan laptop jadulmu itu, prosesornya Intel Core i7-7820HK, mempunyai kecepatan clock speed lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yakni 4,6GHz. Clock speed yang lebih tinggi tentu saja berpengaruh besar pada kinerja dan processing speed pada komputer secara keseluruhan, antara lain mampu meningkatkan frame rate (FPS) pada game.”

Clock speed yang lebih tinggi juga bisa mempercepat waktu rendering 3D/video editing dan mempercepat berbagai aplikasi yang sangat boros daya atau resource intensive, seperti game dan beberapa aplikasi sosial media yang menggabungkan foto, video dan teks sekaligus di dalamnya.

“Cocok buatmu yang suka bikin video Youtube seperti Agung Hapsah atau bahkan seperti Presiden Jokowi. Oiya Kemal, Saya ingat, kamu kan pernah melakukan overclocking di PC-mu yang dulu. Laptop ini pun bisa lho. Kamu dapat melakukan overclocking dengan cara yang terbilang sangat mudah. Clock speed dapat ditingkatkan melalui tools atau aplikasi khusus yang telah disediakan ASUS secara pre-installed pada notebook tersebut yakni ASUS Gaming Center. Skenario yang dapat dilakukan antara lain, menaikan frekuensi tegangan pada CPU dan GPU secara manual sampai ambang batas tertentu.”

Yang paling berbeda adalah, ASUS telah mendesain ulang konsep pendinginan pada watercooling di ROG GX800. Pada seri terbarunya ini, ASUS mengatakan telah membuat aliran watercooling yang terbuat dari radiator tersebut mampu mengaliri dua buah GPU sekaligus CPU yang terpasang di dalam notebook tersebut untuk mendinginkan sistem.

Whaaat!!? Radiator? ini laptop apa mobil yak? 

Jadi salah satu manfaat radiatornya itu Mal, dapat membuat CPU-nya mampu di overclock hingga frekuensi 4,6GHz dengan aman ketika dalam mode docking mode (notebook telah terpasang dengan docking watercooling). Untuk mendapatkan kemampuan yang paripurna harus menggunakan docking mode, agar dua buah VGA serta kemampuan CPU bisa “disiksa” sampai batasnya.

Nah, berbeda dengan ASUS ROG GX700, ketika dalam mode docking mode, pengguna harus memasang dua buah charger yang totalnya mencapai daya 660W. Satu charger dipasang di notebook dan satunya lagi harus dipasang pada pada watercooling.

Edisi ini mempunyai dua buah charger yang totalnya mencapai daya 660W, namun listrik yang dikonsumsi tidak akan sebesar itu meskipun docking watercooling telah terpasang.

Kemal masih serius mendengarkan penjelasan saya. Sesekali dia menyeruput kopinya.

Pasokan daya yang dibutuhkan untuk memberikan makan perangkat ini menjadi luar biasa besar. Pada ASUS GX700, adapter sebesar 330W sudah cukup untuk menghidupi notebook sekaligus watercooling yang terpasang. Sementara untuk GX800 ada dua buah adapter yang berukuran 330W harus terpasang. Hal ini wajar mengingat ASUS ROG GX700 hanya menggunakan satu buah graphic card yakni Nvida GTX980 sementara GX800 memiliki dua buah graphic card GTX1080.

Namun hal ini sekaligus mengindikasikan, ketika misalnya kamu memiliki perangkat ini dan ingin memainkannya di rumah, mestilah mempersiapkan juga pasokan daya yang cukup. Kalau semisal pasokan listrik dirumah hanya sebesar 1300 Watt, artinya mungkin harus rela gelap-gelapan jika mau memainkan perangkat ini di malam hari, karena dari notebook saja sudah menguras 660W, belum lagi konsumsi listrik dari peralatan elektronik yang lainnya.

Tetapi ngga usah khawatir, Mal, kesimpulan itu diambil berdasarkan teori hitung-hitungan kasarnya. Dalam praktiknya, menurut pihak ASUS, listrik yang dikonsumsi tidak akan sebesar itu meskipun docking watercooling telah terpasang.

Pihak ASUS mengatakan meskipun telah di overclock sampai 4,6 GHz, daya listrik yang di konsumsinya hanya mencapai 550W saja. 

Perbedaan selanjutnya, adalah jenis media penyimpanan cepat berbasis SSD yang ditambah menjadi tiga unit. ASUS ROG GX800 menggunakan media penyimpanan buatan Samsung yakni SM951 yang diklaim sebagai Solid State Drive tercepat abad ini. SSD tersebut juga memiliki fitur NVMe alias Non Volatile Memory Express yang memanfaatkan slot PCIE Generasi ke-3 M.2 untuk memaksimalkan kecepatan bandwidth-nya.

Kemal seperti tak berkedip mendengar penjelasan saya. Apalagi ketika membahas harddisk.

“Proses di media penyimpanan menjadi sangat cepat, ngga seperti komputer di kampus kita lah, Mal. Kamu pasti belum tahu kalau Slot PCIE4 memiliki kecepatan 4 kali lebih cepat dibandingkan dengan SATA3 atau mungkin bisa dibilang ini adalah koneksi media penyimpanan paling cepat saat ini. Slot PCIE 4 menghasilkan kecepatan membaca SSD hingga 20Gb per detik, atau 4 gigabyte lebih cepat dibandingkan dengan Raid 0. Kebayangkan, butuh berapa detik untuk mentransfer berfolder-folder film? ngga sampai 5 detik semua film akan berpindah dengan sempurna.”

Penggunaan PCIE 4 juga lebih aman dan tahan lama, karena jika salah satu keping SSD rusak, maka keping SSD lain tetap aman.

“Hmmm, apa lagi ya, Mal, masih banyak yang menarik lho ya.” Saya menghela napas dan kembali mengambil gelas dan meneguk kopi. Seperti terhipnotis, Kemal tak bersuara namun tangannya mengambil gelas dan meminumnya dua tegukan. Tanpa kami sadari, ternyata suasana kedai mulai ramai. Sepertinya sudah waktunya jam makan siang. Saya melanjutkan penjelasan tentang ASUS ROG GX800

Laptop ini ternyata juga sudah dilengkapi dengan WiFi antena eksternal. Dengan menggunakan eksternal WiFi kemampuannya dan kecepatan notebook dalam menangkap sinyal menjadi lebih baik dibandingkan WiFi antena standar. Hal ini memudahkan para gamers saat hendak memainkan game online saat tidak menggunakan LAN.

ASUS mengklaim bahwa daya jangkaunya dalam menangkap sinyal dapat di boost hingga 50 persen lebih baik daripada mengunakan antenna standar. 

Sambil mengeryitkan dahi penuh penasaran, Kemal memotong pembicaraan saya.

“Jadi itu, keyboardnya berwarna RGB begitu? Lho ada ya, laptop begitu?”

“Ini sih sudah lama, Mal. Awalnya ASUS menggunakan single LED keyboard yang berwarna merah. Namun sekarang sudah disempurnakan dengan menggunakan RGB kebyoard, sehingga warna yang dipancarkan bermacam-macam. Selain itu, kita dapat nih menyesuaikan nyala lampunya melalui ROG Aura yang terdapat pada ROG Gaming Center.”

Keyboardnya pun kini telah menggunakan mekanikal keyboard. Hal ini praktis membuatnya kenyamanan dan daya tahan papan ketik tersebut menjadi lebih unggul dari sebelumnya. Feel saat menekan keyboard tersebut terasa clicky juga sangat halus dan empuk. Tombol WASD diberikan warna agak bold dengan aksen putih di sekelilingnya.

Sementara tombol untuk memanggil aplikasi ASUS Gaming Center berpindah dari sebelumnya terletak berdekatan dengan Numlock menjadi memojok di bagian atas berdampingan dengan tiga tombol makro key, video record, serta volume min and max.

“Ngga hanya itu, Mal. Perangkat ini juga memiliki trackpad yang sangat responsive dan punya daya jelajah yang amat luas. Trackpad buttonnya pun dibuat dengan sangat baik dan empuk ketika ditekan. Satu yang sedikit agak berbeda, logo ASUS yang berada di sebelah kanan notebook ikut menyala ketika perangkat dihidupkan. Terlebih ketika kamu telah mengkonfigurasi RGB-nya, logo itu akan turut memancarkan warna-warni yang bakal memikat mata. Ah, mengasyikkan lah pokoknya.”

Pada produk sebelumnya, yakni ASUS GX700, ASUS membundle paket pembelian notebook tersebut dengan mouse bernama SICA. Mouse ini notabene hanya mouse biasa yang dijubahi dengan nuansa gaming. Tetikus itu tidak memiliki pengaturan DPI atau tingkat responsifitas untuk menggeser kursor. Sementara pada ASUS GX800 mouse yang diberikan adalah Gladius, sebuah mouse gaming yang dapat di set DPI-nya hingga 6400 dan sangat ideal untuk permainan bertipe First Person Shooter.

Secara otomatis, karena memuat dua buah graphic card,  membuat ASUS ROG GX800 menjadi memiliki ketebalan dan bobot yang lebih berat dibandingkan adiknya si GX700, yakni 45mm untuk tebalnya dan 5,7 KG untuk hanya bobotnya.

Sepertinya Kemal mulai gusar. Dia terlihat begitu penasaran. Kemal pun menggeser kursinya menjadi berada di samping saya. Dia seperti sangat penasaran dengan laptop ASUS ROG GX800.

“Layarnya sekarang, Mal.”Saya menunjukkan gambarnya ke Kemal dan lanjut bercerita.

Layar Berteknologi G-Sync

ASUS ROG GX800 didesain dengan bentang layar seluas 18.3 inci. Sangat besar untuk ukuran notebook. Tetapi, memang terasa pas mengingat perangkat ini adalah komputer jinjing untuk kebutuhan bermain game kelas premium yang diperuntukan untuk hardcore gamers.

“Main DOTA mah, lewaaaaat!”

Display-nya juga telah mendapatkan finishing matte yang berguna untuk membuat mata para gamers tidak mudah lelah saat bercengkrama dengannya dalam jangka waktu cukup lama. Jenis layar seperti ini pun juga membantu mereduksi pantulan sinar cahaya dari luar arah belakang secara signifikan.

“Ini lho Mal, kamu harus lihat keterangan display-nya laptop ini. Gokil banget, coba lihat deh!”

Dengan panel beresolusi Ultra HD alias 4K (3840X2160), layar ROG GX800 telah dilengkapi dengan tingkat refresh rate 60Hz. Artinya layar mampu menampilkan sebanyak 60 gambar per detiknya. Sudah sepantasnya memang notebook berbekal kartu grafis mutakhir, haruslah diimbangi dengan layar berteknologi mumpuni agar kualitas gambar yang dihasilkan mampu ditransmisikan dengan baik. Pabrikan asal Taiwan ini juga telah melengkapinya dengan teknologi NVIDIA G-SYNC di dalamnya.

NVIDIA G-SYNC adalah sebuah fitur yang ditempatkan pada layar dari NVIDIA. G-SYNC memperhalus gerakan gambar dengan menyesuaikan refresh rate layar dengan refresh rate yang dihasilkan oleh GPU, sehingga layar yang sudah menggunakan teknologi ini bisa dipastikan memiliki gerakan yang lebih mulus dan mampu mengeliminasi gerakan patah-patah (screen tearing) yang diakibatkan oleh ketidak-cocokan refresh rate antara layar dan GPU.

Agar gambar yang dihasilkan oleh layar ini lebih baik lagi, ASUS turut memberikan teknologi in-plane switching atau yang biasa disebut dengan IPS.

Seperti diketahui, teknologi ini mulai banyak digunakan pada banyak perangkat, termasuk smartphone. Karena menawarkan akurasi dan reproduksi gambar yang lebih baik, IPS sangat cocok untuk hal-hal seperti, fotografi, desain grafis, konten game 3D, hingga membuat film.

Layar IPS ini juga mendukung sudut pengelihatan yang lebih besar yakni 178 derajat baik dalam keadaan vertikal maupun horizontal. Keuntungannya, dari sisi gamer, mereka bisa mendapatkan posisi terbaik dan ternyaman dari suduh manapun yang diinginkan. Tentunya dengan hal itu, para gamers akan lebih mudah mempertontonkan kehebatannya pada khalayak ramai.

“Sudah semacam laptop rasa smartphone ya, layarnya!” Kemal menggerutu sendiri tanpa saya respon.

Di dalam display pun telah disematkan teknologi bernama Spendid Display. Fitur yang sangat menyenangkan ini, mempunyai empat buah mode yang bisa dipergunakan pengguna untuk menyetel layar agar nyaman ketika dipergunakan. Empat mode tersebut antara lain, Normal Mode, Eye Care Mode, Vivid Mode, dan Manual Mode.

“Tahu ngga dirimu, Mal, apa perbedaan mode tersebut? Ini lho perbedaannya”

Normal Mode itu adalah mode dimana LCD telah diprogram (setting) secara lebih optimal untuk kenyamanan tampilan visual. Penggunaan mode ini cocok untuk bekerja sehari hari, seperti mengedit dokumen dan melihat gambar.

Kalau Eye Care Mode adalah mode dimana kecerahan pada cahaya biru di layar akan direduksi untuk menghindari cedera pada retina mata. Mode ini dirancang untuk keperluan penggunaan laptop dalam waktu yang lama. Mode ini juga merupakan fitur teknologi terbaru yang telah dirancang oleh para engineer ASUS, dengan mempertimbangkan faktor kesehatan pada mata tadi. Cahaya biru pada layar akan dikurangi hingga 33 persen. Seperti diketahui ketika komputer dalam keadaan hidup (bekerja) display akan menampilkan cahaya biru pada rentang spektrum 450-495 nm. Cahaya biru tersebut merupakan salah satu penyebab dari degenerasi makula dan cedera pada retina. Dengan fitur Eye Care yang terdapat di dalam Splendid, cahaya pada panel LCD akan dibuat lebih kuning (redup) untuk mengurangi dampak cedera tersebut.

Vivid Mode adalah mode dimana pengguna akan mendapatkan kontras warna, serta ketajaman gambar yang lebih tinggi dari sebelumnya. Itu berguna untuk memberikan pengalaman visual yang lebih hidup untuk melihat gambar seperti pemandangan di dalam film, foto dan lainnya.

Manual Mode adalah mode dimana pengguna dapat dengan bebas mengatur kecerahan dan tampilan pada layar sesuai dengan preferensi yang diinginkan.

Ketika mengaktifkannya dan menggunakan notebook dalam waktu yang lama, pengguna tidak masih merasa mata sangat nyaman menggunakannya. Detil warna terlihat jelas dan hidup. Begitupun ketika dipergunakan untuk menyaksikan film dan lainnya. Reproduksi warnanya pas di mata sehingga membuat perangkat ini nyaman dipakai lama untuk membuat atau menyaksikan video maupun film.

“Lho, itu ada Docking Watercooling-nya? Maksudnya apaan? kan itu laptop, bukan PC?”

“Kan ini bukan sembarang laptop, Mal. Laptop ‘Dewa’ gitu lho! Hanya untuk para Pangeran saja!”

Docking Watercooling Generasi ke-2, Lebih Bertenaga

ASUS tampaknya sangat berambisi akan gagasan ini dan memulai riset untuk menciptakan teknologi ini watercooling sejak 2003. Dalam implementasinya, sebagai sebuah notebook ASUS ROG GX800 adalah perangkat yang cukup portable walau sejujurnya bobot maupun dimensinya sedikit merepotkan untuk dibawa-bawa. Tetapi dia adalah teman ideal bagi para gamer yang benar-benar membutuhkan performa.

Sementara sebagai workstation atau gaming desktop, pengguna bisa memanfaatkan docking khusus yang berisi cairan (watercooling) yang tersimpan rapi di dalam sebuah koper. Saat kedua bersatu padu, kemampuan notebook seketika menjadi bak seperti monster yang siap melahap game apapun.

“Ini yang keren, Mal, cara kerja dari docking yang  oleh ASUS disebut sebagai Hydro Overclocking Station ini masih sama dengan watercooling pada GX700. Pendingin bekerja dengan cara mengalirkan cairan yang berasal dari tangki melalui tabung selang yang didorong oleh pompa menuju ke dalam perangkat untuk mendinginkan sistem yang sedang bekerja.”

Setelah menunaikan tugas tersebut, cairan panas yang telah mendinginkan sistem tersebut dialirkan lagi keluar sistem dan kembali menuju docking untuk mendinginkan temperature dengan radiator. Panas akan dibuang keluar melalui lubang ventilasi pada radiator.

Desain radiator water ooling dibuat dengan proses manufaktur yang sama dengan sistem pendingin yang ada pada sebuah mobil, agar dapat memberikan penyegaran dan pendinginan yang maksimal. Water cooling-nya pun sangat mudah digunakan, karena pengguna hanya tinggal mengaitkan konektor yang ada di docking dengan notebook.

Hanya saja cooling ASUS GX800 bekerja lebih berat karena harus mendinginkan dua buah GPU serta satu CPU untuk menstabilkan sistem yang berjalan. Pendingin tersebut juga memiliki diameter 20 persen dibanding sebelumnya yang secara otomatis menampung coolant (cairan pendingin) lebih banyak. Bobotnya sendiri mencapai 4,7Kg.

Sementara di dalam notebook terdapat sebuah fan yang cukup besar Daya rotasi dari kipas tersebut dapat disesuaikan untuk memberikan hasil yang maksimum. Tentu saja saat menggunakannya untuk bermain game berat tanpa docking, harusnya menyetel fan-nya mentok diangka 100 persen. Namun hal ini akan memberikan ekses berupa suara yang cukup berisik. Wajar, tenaga dan daya putar kipas memang harus besar untuk menenangkan berbagai komponen buas di dalamnya.

“Penasaran kan kamu, Mal? Ngga hanya CPU-nya saja lho yang sanggup di overclock, namun GPU-nya pula mampu dimaksimalkan kemapuannya. Sang GPU dapat di overclock mencapai 2,1GHz melalui ASUS Gaming Center. Kamu dapat memainkan semua jenis game berat yang sudah disupport dengan fitur 4K dengan nilai FPS mencapai di atas 60.”

Kelengkapan Port Input Output

“Hahaha, keren ya julukannya.” Kemal tertawa ketika melihat julukan laptop ini

“Iya. Laptop ini dijuluki The Real Monster Gaming Machine, memiliki port HDMI 2.0 untuk memfasilitasi monitor 4K dengan tingkat refresh rate 60Hz. Adapula display port 1.3 yang mendukung 8K monitor (60 Hz) atau dual 4K monitor 60Hz. Ada 2 buah USB 3.1 Type C yang telah mendukung Thunderbolt 3.0, 3 buah USB 3.0 Type A, Headphone jack, mic jack, WiFi Antena eksternal serta 2-1 card reader. Tidak lupa juga LAN port dan Kensington lock.”

Sementara bicara soal pendinginan, notebook ini punya exhaust yang terletak d ibelakang notebook untuk mengeluarkan panas. Sementara dua buah ventilasi yang terletak di kanan dan kiri perangkat berguna untuk menyaring udara yang masuk. 

Dual Array Microphone 

Untuk mendukung multiplayer gaming seperti LAN Party yang membutuhkan real time video chat yang saat ini sedang tren, ASUS juga memberikan fitur dual array microphones yang dapat menangkap suara dengan jernih tanpa harus terganggu suara lingkungan yang berisik di suatu tempat atau ketika kamu sedang mengikuti kompetisi gaming outdoor.

Teknologi Noise Supression yang dimiliki ASUS juga dapat melakukan penyaringan polusi suara yang dihasilkan pengguna seperti suara ketika mengetuk papan ketik, suara kipas notebook hingga audio yang dikeluarkan game itu sendiri. Sehingga lawan bicara dapat mendengar suara kamu dengan jelas tanpa terganggu suara lain yang tidak diinginkan.

ASUS GameFirst III

Selain performa notebook tinggi untuk mendukung gaming experience pengguna, ASUS juga memberikan fitur ASUS GameFirst III yang akan mengoptimalkan koneksi internet untuk kebutuhan gaming dibandingkan dengan kebutuhan lainnya yang tidak mendukung kebutuhan gaming. Sehingga kita tidak perlu takut untuk menjalankan aplikasi lain di background, atau sambil mendownload file dari internet ketika bermain game, karena bandwidth internet akan diutamakan untuk kebutuhan bermain game.

Hasil Benchmark ASUS ROG GX800

“Ini dia, Mal, hasil benchmark berdasarkan tiga buah mode yang ada pada ASUS GX800 yakni ekstrim, optimized dan standart. Secara otomatis ketika modenya ditingkatkan, dari standar menuju optimized dan ekstrim, kemampuannya akan langsung meningkat.”

 

Kesimpulan

ASUS ROG GX800 adalah the real monster gaming notebook abad ini atau setidaknya pada tahun ini. Selama belum vendor yang memberikan kekuatan lebih gahar pada perangkat gamingnya. Rasanya kekuatan dari GX800 belum akan tertandingi.

“Satu lagi, Mal, saya hanya mau memperingati bahwa notebook ini mungkin hanya cocok untuk Pangeran Arab saja. Jadi buat kamu yang bukan Pangeran Arab jangan ngarep atau baper kalau belum bisa membelinya. Hehehe”

Perbincangan kami pun selesai. Seolah diperintah, kami meneguk kopi secara bersamaan. Kami tersihir oleh buasnya kemampuan ASUS ROG GX800 ini, hingga kami lupa apa agenda kita hari ini. Melihat wajahnya Kemal, sepertinya dia berniat membelinya. Kita lihat saja. Apakah Kemal dapat menyaingi Pangeran Arab?

 

Advertisements

Inilah Profesi Memanfaatkan Social Media

Ilustrasi: Digital Marketing | Sumber: techgrowsoft.com

Ilustrasi: Digital Marketing | Sumber: techgrowsoft.com

“Usaha ngga harus online, namun ngga ada usaha yang melupakan online.” ~ Hermawan Kartajaya

Di era sebelum ada internet, semua orang jika ingin membeli satu barang harus keluar rumah, memakai pakaian bagus, menghidupkan motor, belum lagi jika hujan, becek, banjir, macet, hingga jauhnya lokasi. Diperlukan usaha yang tidak sedikit untuk melakukan transaksi.

Related image

Namun semuanya perlahan berubah ketika teknologi internet dapat dinikmati masyarakat Indonesia. Sekarang lebih dari separuh masyarakat Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Meskipun masih banyak terpusat di Jawa, namun daerah-daerah yang lain pun terus berbenah mengejar ketertinggalan.

Menurut data APJII (November, 2016), sebanyak 132,7 juta dari total populasi penduduk Indonesia 256,2 juta sudah terkoneksi internet. Salah satu dampaknya adalah semakin hari transaksi melalui media internet pun terus meningkat. Toko konvensional melirik untuk menjamah ranah dunia maya. Pelan tapi pasti, transaksi elektronik terus melesat. Tak hanya toko online yang banyak bermunculan, merek-merek terkenal pun goes online, perusahaan, pemerintahan, hingga dunia perpolitikan di Indonesia menjadi peduli terhadap perkembangan teknologi internet. Arus informasi begitu deras seperti aliran air terjun yang menghujam daratan. Sulit dihentikan, internet kini terus meluas menjamah setiap senti pelosok negeri.

Image result for internet indonesia 2017 infografis

Menurut data APJII (November, 2016), Facebook menjadi media sosial yang paling sering digunakan diikuti Instagram, Youtube, Google+, dan Twitter. Selain itu, menariknya, 62% dari pengguna internet di Indonesia sering mengakses toko online. Artinya ada sekitar 82,2 juta orang yang gemar melakukan transaksi di dunia maya. Aktivitas berikutnya meliputi bisnis personal sebanyak 34.2%. Tentu hal ini merupakan peningkatan aktivitas bisnis yang ada di internet.

Profesi-profesi baru pun hadir begitu saja. Banyak orang yang memanfaatkan internet untuk berbisnis dan mengambil keuntungan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan berbagai media yang ada di internet seperti advertising, media sosial, pengembang aplikasi, penulis kreatif hingga marketing digital. Ini sebabnya, belakangan ini banyak agensi digital bermunculan mewarnai kehidupan internet Indonesia, salah satunya adalah ABAH Digital Marketing Specialist

digital-marketing-2

Ilustrasi Digital Marketing | Gambar: dealerdigitalgroup.com

Akibatnya banyak profesi-profesi baru. Perusahaan pun menambah divisi khusus untuk menampung profesi ii. Sebenarnya ada banyak sekali profesi yang ada karena adanya internet. Contohnya seperti blogger, buzzer, social media specialist, content writer, youtuber, web developer, programmer, designer dan lain sebagainya. Namun saya akan memberikan contoh beberapa profesi yang memanfaatkan media sosial sesuai dengan pengalaman saya beberapa tahun belakangan ini.

1. Blogger

Sejak 2007, saya sudah tertarik membuat blog. Kala itu guru SMK saya mengenalkan Multiply dan WordPress. Sejak itu saya langsung ketagihan mengelola blog. Ternyata belakangan, menjadi blogger bisa menjadi salah satu profesi yang menguntungkan. Butuh waktu empat tahun hingga akhirnya mendapatkan job pertama dari blog. Betapa senangnya waktu itu, mendapatkan job review dari salah Digital Agency Jakarta dengan fee 800 ribu untuk satu postingan. Tawaran serupa sering saya dapatkan, meski tak semuanya saya terima.

wahyu-alam-blogger

Sekarang pekerjaan dengan memanfaatkan blog semakin beragam, ada yang namanya backlink campaign, pay per post, placement post, sponsored post, dan banyak nama-nama sejenis lainnya.

2. Social Media Strategist

Profesi ini juga sedang saya lakukan hingga sekarang. Social media strategist tugasnya membuat rancangan strategi untuk marketing digital menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Rancangan biasanya berupa rencana dalam satu bulan atau yang biasa diberi nama content matrix, kemudian diterjemahkan menjadi content plan yang sifatnya per minggu. Content matrix berisi tema/topik yang apa saja yang akan dibahas dalam sebulan ke depan. Tema/topik harus sesuai dengan kondisi tren yang sedang ramai di masyarakat untuk mendapatkan engagement dari followers ataupun likers.

Social media strategist juga mempunyai tanggung jawab terhadap campaign-campaign apa yang harus dikerjakan setiap minggunya. Siapa-siapa saja yang harus diajak untuk menjadi buzzer, apa hashtagnya, siapa targetnya dan bagaimana menghitung return of investment (ROI)-nya. Tentu setiap brand mempunyai strategi berbeda-beda menyesuaikan dengan jenis brand dan target yang ingin dicapai.

3. Social Media Admin

Berbeda dengan social media strategist, social media admin bertugas untuk mengelola akun-akun dari brand. Biasanya satu orang akan mengelola lebih dari satu brand dan setiap brand memiliki beberapa aku media sosial sekaligus. Tugas social media admin diantaranya memposting, menjadwalkan postingan hingga menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan postingannya.

4. Social Media Response

Social media response sebenarnya turunan dari social media admin, hanya saja harus lebih responsif dan realtime. Biasanya hanya brand besar yang menggunakan jasa social media response. Brand besar tentu akan mendapatkan pertanyaan lebih banyak daripada brand-brand kecil. Tentu respon cepat sangat dibutuhkan. Apalagi jika sedang terjadi peristiwa yang menyangkut brand tersebut, pasti akan banyak sekali netizen yang memberikan komentar beragam. Tentu ada yang pro dan kontra. Memang sebenarnya respon bisa di-otomatisasi, namun bagaimana pun bahasa manusia berbeda dengan bahasa robot.

 

Image result for social media strategist

Ilustrasi Social Media Strategist | Gambar: thenextweb.com 

 

 

Nah, saya pernah menjadi social media response untuk salah satu perusahaan taksi terkemuka. Saya harus standby sesuai jadwal yang sudah ditentukan, karena diwajibkan responsif dan maksimal response time tidak boleh dari tiga menit. Sehingga dalam satu shift, saya harus fokus memandangi layar timeline di depan laptop/iPad. Setiap pertanyaan, komentar, komplain, hingga hujatan harus direspon dengan baik. Kemudian didokumentasikan sebelum akhirnya dikirim ke Jakarta untuk penanganan langsung dan juga untuk keperluan laporan.

Pernah suatu ketika, aktivitas timeline meningkat drastis karena kejadian kriminal yang dilakukan oleh oknum sopir, hal itu juga dapat memberikan pengaruh besar dalam profesi ini. Social media response dituntut cekatan menjawab sentimen negatif dengan sentimen-sentimen positif dengan cara elegan. Kalau dibahas lebih dalam, bisa menjadi satu postingan tersendiri.

5. Content Writer

Menurut saya, ini profesi yang paling sulit. Content writer biasanya diharuskan menghasilkan 5-10 konten setiap harinya. Bagi saya, menulis yang baik itu membutuhkan mood yang baik. Sehingga saya cukup mengalami kesulitan saat menjadi content writer untuk salah satu portal berita teknologi. Meskipun diperbolehkan menterjemahkan berita dari portal sejenis berbahasa Inggris, namun tetap saja content writer itu tidak mudah.

Padahal menjadi content writer tidak sesulit menulit untuk koran. Cukup dengan artikel yang pendek, judul yang menarik dan lagi ngetren belakangan, itu sudah bisa publish di portal berita tersebut. Bagi kalian yang suka sekali menulis, content writer bisa menjadi pilihan terbaik.

***

Image result for macbook twitter

Ilustrasi Social Media Strategist | Gambar: thenextweb.com

Itulah sebagian kecil profesi yang ada memanfaatkan media sosial. Berbeda dengan profesi yang ada di kantor, profesi ini dapat berubah nama dan tugasnya menyesuaikan dengan tren teknologi internet yang berkembang saat ini.

So, profesi manakah yang menjadi favoritmu?

 

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam ABAH blog writing competition seperti yang ada  di banner di bawah ini:

Abah Blog Writing Competition 2017

2016 Top Smart City Projects in Asia/Pacific

ao-poster-forwebIDC Asia Pacific announced the winners of the 2016 Smart City Asia Pacific Awards, which recognizes the most outstanding smart city projects in Asia/Pacific excluding Japan (APeJ) in 14 functional eServices. On its second year, the most outstanding projects came from all over Asia Pacific excluding Japan (APeJ), with Singapore and New Zealand coming up as the biggest winners with three awards each. Continue reading

Forget About The Forbes’ Lists, Here Are 9 Great Things About Taiwan

Is Taiwan a developed country? We’ll let you be the judge of that. But our island has a lot more merit than you might give it credit for. Here are just nine of them.

1. There’s no proliferation of guns in Taiwan; more than 11,000 people die from gun violence every year in the United States.

taiwan-vs-us-gun-proliferation-exp-city543.jpg

2. Taiwan does not invade other countries, we are a peace-loving country.

taiwan-vs-other-countries-invading-exp-city543.jpg

3. Taiwan has a 45.07 percent recycling rate, higher than France’s 42 percent.

taiwan-vs-france-recycling-rate-exp-city543

4. Taiwan ranks number 1 in open government data in the Global Open Data Index of 2015 done by Open Knowledge Foundation, higher than the host country, the United Kingdom.

Continue reading