Perbedaan Kuliah Sarjana dan Pascasarjana


kekuatan-buku-mengubah-sejarah-dunia

Karena pendidikan adalah hak semua orang.
~ Undang-undang RI

Mengeyam pendidikan setinggi-tingginya adalah dambaan banyak orang. Saya bersyukur bisa merasakan pendidikan hingga sarjana. Kini saya punya kesempatan langka: kuliah pascasarjana.

Setelah menempuh semester pertama pascasarjana, tangan saya gatal untuk menulis apa saja perbedaan kuliah di sarjana komputer dan di pascasarjana. Meskipun saya fokus menulis untuk jurusan sistem informasi, tapi secara keseluruhan masih diterapkan di semua jurusan.

Mostly in English

Saat mendaftar kuliah pascasarjana, kamu akan diminta skor TOEFL. Hanya mahasiswa dengan skor TOEFL yang memenuhi syarat yang bisa lolos seleksi. Syarat minimum skor TOEFL di setiap kampus setiap tahun biasanya meningkat. Misalkan di ITB tahun lalu masih menerima 475, tahun ini meningkat 500. Saat saya kuliah di ITS pun diminta skor TOEFL 477. Beda lagi jika mau submit beasiswa di luar negeri, rentangnya bisa 500-550 atau bahkan 575. Skor TOEFL akan memberi tahu sejauh mana kemampuan bahasa Inggris kita. Selain TOEFL, yang lagi menanjak adalah IELTS. Beberapa negara sudah tidak lagi menerima TOEFL dan beralih ke IELTS.

Betul, belum masuk kuliah saja, sudah harus mulai berkutat dengan bahasa Inggris.

Setelah masuk perkuliahan baru tersadar, bahwa hal wajar kampus meminta skor TOEFL yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan kuliah di pascasarjana lebih banyak merujuk paper, buku, dan rujukan dari internasional. Semua rujukan tentunya menggunakan bahasa Inggris.

Tak hanya proses seleksi dan perkuliahan, bahkan lulus pun harus punya skor yang sudah ditetapkan kampus. Di ITS, mahasiswa tidak diperkenankan yudisium jika belum mempunyai skor TOEFL 477. Hal ini membuat semua mahasiswa pascasarjana getol belajar bahasa Inggris lagi. Lab bahasa di ITS pun ramai. Bahkan saya pernah menjumpai seorang bapak yang sudah lulus ujian disertasinya namun tidak bisa yudisium. Bapak itu terpaksa harus kursus TOEFL preparation untuk bisa memenuhi syarat TOEFL untuk lulusan program doktoral yaitu 500.

Nah, kan. Kamu masih gatal dengan bahasa Inggris, atau langsung alergi jika mendengar kalimat bahasa Inggris, maka kamu harus segera bangkit dari kamar tidur dan mulailah belajar bahasa Inggris. Mulai dengan hal kecil, beli buku TOEFL, cari referensi di internet, kalau ada duit lebih jangan ragu untuk kursus.

Ngga ada kata terlambat untuk hal satu ini: belajar!

Sedikit Meninggalkan Hal Teknis, Lebih Banyak Analisa

Saat kuliah sarjana di jurusan Teknik Informatika, maka kita akan disibukkan dengan belajar coding dari dasar, mengenal algoritma hingga membuat perangkat lunak yang menarik. Semua mata kuliah mewajibkan kita untuk mengumpulkan tugas akhir semester dalam bentuk project. Tentunya dalam skala kecil.

Hal itu semua jika di pascasarjana dianggap hal yang teknis sekali.

Ibarat bangun rumah, coding itu ibarat kita mencampur semen dan pasir yang kemudian ditambah air, lalu mulai membangun dengan memasang bata terlebih dahulu hingga akhirnya memasang atap rumah.

Kuliah pascasarjana akan lebih banyak belajar menganalisa bagaimana membuat rumah yang bagus, arsitekturnya, bagaimana agar tahan sampai seratus tahun, dan bagaimana jika membuat rumah yang bertingkat. Pascasarjana sistem informasi akan lebih banyak membahas tentang bagaimana memanajemen sebuah proyek, menganalisa kebutuhan dalam sebuah tim IT, hingga bagaimana membangun aplikasi yang entreprise.

Tentu hal itu akan berjalan dengan baik, jika didukung dengan pengetahuan tentang hal-hal teknis.

Research-Oriented

Pascasarjana itu akan banyak disibukkan dengan paper. Baca ratusan hingga ribuan paper. Tak hanya membacanya, tapi harus menganalisa, mengkritisi hingga melakukan penelitian sesuai dengan topik atau bidang minat yang ingin digeluti.

Kurikulum pascasarjana dirancang dengan research-oriented. Hal ini untuk meransang lebih banyak lagi publikasi dari Indonesia. Menurut laporan SJR SCimago Journal Country Rank,  Indonesia masih menduduki peringkat 61 dengan hanya 25 ribuan publikasi, ini jelas jauh dari Singapura di peringkat 32 yang sudah punya 170 ribuan publikasi.

So, segera tulis papermu!

Menganut Mahtab “Banyak Tahu Sedikit Hal”

Saat kita masih SD, SMP, dan SMA, kita akan menganut mahtab  “Sedikit tahu banyak hal”. Kurikulum kita memaksa kita tahu banyak hal, seperti belajar ilmu alam bersamaan dengan ilmu sosial juga kewarganegaraan dalam satu waktu. Hal ini berbeda jika sudah kuliah sarjana apalagi pascasarjana.

Belajar tingkat lanjut artinya menuntut kita untuk ekspert di bidang tertentu. Mahtab “Banyak tahu sedikit hal” harus dianut mahasiswa pascasarjana. Belajar di jurusan sistem informasi, kita dituntut belajar lebih dalam tentang bagaimana dunia sistem informasi, teknologi informasi hingga manajemen di dalamnya. Tidak lagi belajar tentang membuat game dari dasar atau bahkan bagaimana memasang jaringan komputer di dalam gedung.

Membaca dan Menulis Paper Lebih Penting dari pada Coding

Kalau kuliah pascasarjana itu masih buat coding juga? Pertanyaan ini sering berkecamuk dalam pikiran saya sejak masih sarjana. Mungkin kamu juga bertanya seperti itu.

Setelah berjalan perkuliahan pascasarjana, aktivitas kita lebih banyak membaca, menganalisa dan menulis paper. Aktivitas wajib saat kuliah sarjana seperti coding berkurang drastis, dan nyaris tidak pernah.

Karena ketika dianggap masuk pascasarjana, kita dianggaps udah menguasai teknik coding yang baik dan benar.

Bukan Lagi Masa Berorganisasi, Paper Adalah Makanan Sehari-hari

Perbedaan yang mencolok saat kuliah sarjana dan pascasarjana adalah berorganisasi. Saya sering meracuni mahasiswa sarjana untuk berorganisasi. Karena berorganisasi itu sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan hingga public relations. Organisasi tingkat fakultas, universitas atau bahkan organisasi eksternal berlomba-lomba mencari masa untuk dijadikan anggota. Ada yang ikut pecinta alam, olahraga, atau bahkan belajar berpolitik. Semuanya baik untuk diikuti.

Sedangkan jika sudah masa kuliah pascasarjana, kegiatan itu bukan lagi masanya. Bukan berarti tidak penting, kegiatan organisasi dalam kehidupan itu tidak ada habisnya. Kita tidak lagi sempat untuk mengurus acara, rapat kerja hingga mencari sponsor untuk suatu acara. Kita akan lebih banyak berkutat dengan paper.  Yes, paper adalah makanan kedua setelah nasi.

Bagaimana, tertarik lanjut ke pascasarjana? persiapkan dari sekarang!

6 thoughts on “Perbedaan Kuliah Sarjana dan Pascasarjana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s