Tanpa dan Genggam Internet?


Tanpa berharap terjadi dan belum pernah terpikirkan mengalami hidup sehari tanpa internet. Mungkin, jika hari ini adalah hari tanpa internet. Saya bukanlah saya yang biasanya. Smartphone kesayangan akan kehilangan pasangan kata “smart” yang menjadi pembeda. Penjaga warnet memilih menghabiskan waktunya di rumah. Aktivitas perkantoran terhenti sejenak. Karyawan akan memilih berada di rumah daripada hidup di kantor tanpa internet. Tak ada lagi guyuran kicauan di timeline Twitter. Server Facebook dan Instagram akan bekerja lebih ringan dari kemarin, karena tak ada lagi foto selfie yang terunggah. Ilmuan Google akan kebingungan menyaksikan kurva grafik penurunan aktivitas menjadi titik nol.

***

Internet bukan lagi barang mahal. Internet sudah menjadi kebutuhan. Banyak yang menyandingkan internet sebagai kebutuhan primer keempat setelah sandang, pangan, dan papan. Sekarang ini, banyak ditemui orang menggengam smartphone di tangannya. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga kakek-nenek. Mulai dari anak sekolah, orang kantoran, hingga penjual sayur nyaris semua menggunakan smartphone.

Semua sudah menggunakan internet. Apa yang terjadi jika sehari saja tanpa ada internet?

Adanya internet membuat adik saya, Diyah, tidak lagi bingung ketika harus mencari lirik lagi Yamko Rambe Yamko. Dengan “mbah” Google, sekali klik adik saya sudah bisa mendapatkan semua yang dia inginkan untuk praktek menyanyi di depan kelas, lirik lagu Yamko Rambe Yamko beserta video karaoke yang diunduh dari gudang video terbesar di jagad raya, Youtube.com.

Bayangkan jika tidak ada internet, Diyah akan pergi ke toko buku sejauh 30 kilometer dari Bangkalan ke Surabaya, harus naik kapal ferry menyeberangi selat Madura dan menembuh jalanan padat Surabaya hanya untuk mencari buku lirik lagu-lagu daerah.

Ibu saya, yang senang mengikuti acara memasak di televisi, namun sering ketinggalan saat menulis resep karena keterbatasan durasi, kadang mengeluh bingung harus mencari resep tersebut di mana. Dan, karena kesibukannya di rumah, tak memungkinkan keluar rumah hanya untuk membeli majalah.

Lagi-lagi, si mbah membantu ibu saya mencari milyaran resep dari seluruh dunia yang tentu tidak tersedia dalam satu eksemplar majalah. Dan, Ibu saya tidak mau kalah dengan para chef terkenal, ia pun memasang foto masakannya di Instagram yang langsung terintegrasi dengan Facebook.

Nurwahyu Alamsyah

It’s time to posting!

Saya mungkin tidak akan seperti Bang Mamat yang setiap hari memantau email dari warganya. Saya akan merasa ‘mati rasa’ ketika tidak ada internet. Smartphone kesayangan saya akan kehilangan kata “smart”-nya. Semua fitur canggih yang tersemat di dalamnya seakan tak ada artinya ketika hanya bisa SMS dan telpon saja.

Saya tidak bisa lagi berbicara via Skype dengan Paklek Chandra yang berada di Jayapura. Tidak bisa menyapa follower setia saya di Twitter. Apalah artinya smartphone tanpa internet. Ponsel pintar saya tidak ada beda dengan ponsel (tanpa kata pintar), biasanya.

Di kampus. Saya akan kesulitan sekali memberikan kuliah secara online kepada mahasiswa yang sudah menunggu di jadwal seperti biasanya. Saya akan kesulitan mengevaluasi hasil kerja yang sudah dikumpulkan mahasiswa via email. Pekerjaan yang bisa dikerjakan dalam dua jam, baru selesai duapuluh enam jam lagi hingga internet kembali nyala. Apa yang saya rasakan pasti akan dirasakan semua dosen di seluruh dunia. Apalagi di luar negeri, yang sudah terbiasa memberikan kuliah secara online.

Begitu juga di jalanan. Transportasi akan terganggu dengan matinya internet. Penumpang busway misalnya. Mereka pasti resah karena menunggu terlalu lama. Biasanya waktu menunggu mereka gunakan untuk sekadar melihat timeline Twitter atau mengunggah foto kemacetan yang tampak di depan mata ke Path. Semua penumpang resah dan bingung akan melakukan apa. Selain itu, mereka juga bingung karena tidak bisa mengetahui posisi busway terdekat berada dimana. Hal yang biasanya mereka lihat melalui aplikasi busway yang ada di ponsel pintar mereka. Ini akan dirasakan semua penumpang transportasi publik di berbagai negara seperti Jepang dan Singapura yang biasa dimudahkan mendapatkan informasi transportasi melalui internet.

Beda di jalanan, beda di dunia bisnis.

Internet sudah menjadi ladang baru bagi berbagai perusahaan, di berbagai bidang, di berbagai negara. Bahkan banyak perusahaanbaru muncul, karena adanya internet. Berbagai posisi pekerjaan bermunculan seiringan dengan bertambahnya kompleksitas perusahaan. Salah satunya contoh posisi yang tiba-tiba muncul adalah social media marketing. Posisi ini belum ada di perusahaan mana pun sepuluh tahun lalu.

Tidak adanya internet tentusangat merugikan dunia bisnis yang keuntungan mereka bisa dihitung per detik.

Mulai dari yang paling sederhana. Banyak orang akan kesulitan mencari pekerjaan lewat jobsdb.com, google.com atau social media seperti Twitter dan Facebook. Perusahaan online advertising akan terhenti kinerjanya satu hari itu. Mereka tidak bisa mengukur dan melihat overview, reaching, daily page visits, people reached, people engaged, hingga revenue mereka dalam dua puluh empat jam ke depan.

Begitu juga dengan dunia perbankan. Belum bisa dibayangkan berapa kerugian dunia perbankan jika tidak ada koneksi internet. Jumlah pengguna internet banking mencapai 5,7 juta orang pada 2012. Berarti 9 persen pengguna internet di Indonesia adalah pengguna internet banking, dan angkanya diperkirakan bertambah seiring pertumbuhan pengguna internet. (Survey Sharing Vision: 2012)

Statistik Penyedia e-Commerce di Indonesia

Statistik Penyedia e-Commerce di Indonesia

Transaksi e-Commerce sudah pasti terkena imbas, matinya internet selama 24 jam ini. Perusahaan tiket pesawat akan kehilangan pelanggan yang biasa memesan tiket melalui internet. Apalagi pasar e-Commerce di Indonesia cukup berkembang, seperti diprediksi oleh Menkominfo, transaksi yang terjadi di dalamnya telah mencapai Rp 130 triliun di tahun 2013. Sebelumnya pada 2012 mencapai Rp 69 triliun. Tentu matinya internet seharian akan memberikan dampak luar biasa bagi mereka yang bergelut di bidang e-Commerce.

Kalau berbicara data kerugian yang didapatkan jika internet mati seharian adalah Kaskus akan kehilangan transaksi Rp 19 milyar. Berniaga akan hilangan 596 ribu pengunjungnya dalam sehari. Zalora akan kehilangan 2000 transaksi dan Tokopedia akan mengalami kerugian Rp 200 juta dalam sehari.

Mereka dalam semenit

Mereka dalam semenit

Bagaimana dengan data social media secara worlwide?

Tentu, sehari tanpa internet akan mengurangi aktivitas server-server perusahaan raksasa seperti Google, Facebook atau pun Whatsapp.

Dalam satu jam, Youtube akan beristirahat dari gempuran video berdurasi 69.120 jam yang akan terupload ke dalam server-nya. 293 miliar email akan istirahat seharian. 2.8 miliar query pencarian tidak akan terjadi di Google. 499.680 blog post akan menjadi draft bagi pengguna WordPress. Dan Apple 67 juta aplikasi urung diunduh bagi pengguna Apple. Semuanya terhenti seketika dalam 24 jam. Berapa kerugiannya? Nyaris tidak bisa dijumlahkan dalam skala matematika. Saya hanya bisa menghitung kerugian Amazon.com dalam sehari bisa mencapat $169 juta. Semua itu terangkum dalam 920 juta gigabyte global internet protocol yang ditransfer dalam 24 jam.

Internet dalam semenit

Internet dalam semenit

Ayo gabung ke dalam 34% pengguna Internet di Dunia!

Semoga kejadian seharian tanpa internet beserta kerugian-kerugiannya itu tak akan pernah terjadi.

Sekarang, kita butuh fokus untuk mengajak teman, saudara, sahabat, kerabat di sekitar kita untuk bergabung dalam 34% penduduk bumi lainnya yang sudah asyik menggunakan internet.

Menurut internetworldstats.com masih sekitar 34,3% dari penduduk dunia yang sudah menggunakan internet dari total 7 miliar penduduk dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 71,19 juta orang hingga akhir tahun 2013. Ini masih 28% penduduk negeri ini yang menggunakan internet. Masih sangat minim. Indonesia harus menyesuaikan tuntutan Millennium Development Growth (MDGs) yang juga disepakati International Telecom Union (ITU), bahwa pada tahun 2015 penduduk bumi sudah harus melek internet 50 persen belum tercapai.

Berikut beberapa cara yang pernah saya lakukan untuk merangsang masyarat memakai internet. Saya melakukan ini di Madura.

  1. Buat atau bergabung lah dengan komunitas online.

Bersama delapan teman lainnya, saya membuat komunitas bloger Plat-M Madura akhir 2009. Selain punya misi Menduniakan Madura, Plat-M juga fokus untuk terus mengedukasi masyarakat Madura yang masih sangat awam pengetahuannya tentang internet. Beberapa acara sudah kami gelar untuk menambah wawasan masyarakat Madura tentang manfaat internet. Kalangan siswa, santri, mahasiswa, guru, hingga berbagai komunitas sudah pernah kami undang atau kami datangi untuk menyebarkan sebuah virus baik bernama internet.

Kamu juga bisa membuat komunitas atau bergabung dengan komunitas online yang ada di sekitar kamu. Setidaknya kamu akan mendapatkan 3P, pengetahuan, pengalaman dan pertemanan baru. Gunakan 3P dan mulailah berbagi 3P ke teman yang lain. Beberapa komunitas online yang bisa kamu ikuti diantaranya komunitas blogger, akademi berbagi, komunitas Mozilla, dsb. Pilihlah sesuai hati kamu!

  1. Sering mengadakan kopdar/gathering offline.

Banyak acara, banyak kopdar, banyak gathering, akan memperbanyak teman, memperkaya pengetahuan dan memperdalam pengalaman. Hal itulah yang nanti akan bermanfaat untuk dibagikan kepada orang lain di sekitar kita.

  1. Memperbanyak komunikasi via social media

Setelah kita mendapatkan ilmu tentang internet dari acara/kopdar/gathering alangkah baiknya menyebarkan informasi dan ilmu baru kamu ke social media seperti Twitter, Facebook dan Blog.

Berkomunikasi adalah salah satu keunggulan yang ditawarkan jika kita semua dapat menggunakan internet. Selain itu, memperbanyak konten positif, agar masyarakat yang lain bisa membacanya dan bisa belajar dari social media yang kamu buat.

  1. Mengadakan pelatihan pengenalan internet secara rutin

Setelah komunitas sudah ada, sering kopdar/gathering dan aktif di social media, sudah saatnya kita bergantian mengadakan pelatihan pengenalan internet secara rutin ke masyarakat. Tidak perlu terlalu sering, sebulan sekali dengan peserta yang berbeda sudah cukup memberikan dampak yang baik bagi masyarakat yang ada di sekitarmu. Kalau meminjam istilah penggagas Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengajar (berbagi) itu adalah kewajiban bagi orang yang terdidik.

Masyarakat tentu akan senang dan tercerahkan dengan acara pengenalan internet secara rutin yang kita adakan. Demi hal itu, Plat-M bekerjasama dengan Telkom se-Madura untuk mengadakan pelatihan untuk masyarakat. Mulai dari santri sampai dari pegiat UKM pernah kami latih untuk dapat memanfaatkan internet sesuai dengan bidang masing-masing.

Seminar internet sebagai media dakwah

Saat mengisi workshop TIK Pesantren di PP. Syaichona Cholil, Bangkalan.

Santri diarahkan untuk bisa menggunakan social media untuk berdakwah dan menyebarkan ilmu agama lewat Twitter, Facebook dan Blog. Dunia akan lebih indah dan damai jika semua santri di Indonesia berlomba-lomba menyebarkan ilmunya via social media. Beranda Facebook dan linimasa Twitter tidak penuh dengan kalimat-kalimat galau khas anak muda sekarang.

Sedangkan pegiat UKM di Madura kita arahkan untuk bisa mengembangkan usahanya lewat internet dengan membuat website e-Commerce buat usahanya.

  1. Memberikan kesadaran tentang besarnya manfaat internet

Masyarakat yang tidak tahu akan manfaat internet sangat banyak. Maka dari itu, ketika pelatihan, berikan dan share semua manfaat internet saat memberikan pelatihan internet. Kebanyakan mereka sudah paham tentang internet tetapi mereka belum paham bagaimana memaksimalkannya. Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat di Madura sudah menggunakan Facebook. Tetapi mereka belum merasa menggunakan internet. Karena menurut mereka, internet = Facebook.

Ajak mereka menggunakan beberapa fitur yang bisa mereka gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Misalkan pengusaha batik, itu bisa diarahkan untuk mengoptimalkan penjualannya menggunakan Facebook, Twitter, website e-Commerce atau pun BlackBerry Messager. Sedangkan untuk kalangan pemerintahan bisa diarahkan untuk menggunakan email sebagai pengganti surat menyurat antar desa. Memanfaatkan Skype untuk rapat bulanan antara pak camat dengan kepala desa.

  1. Ajari internet minimal lima orang di sekitar kamu.

Jika kamu belum bisa menemukan komunitas yang pas dan ikut kegiatannya di dalam, masih ada cara lain untuk bisa menyebarkan virus internet kepada orang di sekitar kamu. Ajak minimal tiga orang di sekitar kamu untuk menggunakan internet dan beri tahu manfaatnya.

Jika 71 juta pengguna internet di negeri ini mengajak tiga orang saja untuk menggunakan internet maka akan ada 213 juta pengguna internet di Indonesia. Artinya 90% penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Ini sudah menjadi kemajuan yang luar bisa bagi perkembangan internet di Indonesia.

Jika ini benar-benar berhasil, maka kamu sudah ikut menjadi “pahlawan” IT Indonesia yang ikut mengajak penduduk Indonesia menggenggam internet!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s