Laos, Negeri Seribu Gajah, Seribu Potensi!


Berkas:Association of Southeast Asian Nations (orthographic projection).svg

Raksasa ASEAN yang saya kenal hanya Indonesia, Singapura, Thailand dan Malaysia. Sisanya, masih berada di belakang keempat raksasa itu. Perkembangan empat raksasa ASEAN itu terjadi di segala aspek kehidupan masyarakatnya, begitu maju dan perkembangannya tidak perlu diragukan lagi. Berbagai prestasi dalam bilang pendidikan, politik, ekonomi dan wisata telah diraihnya. Bagaimana dengan negara-negara lain?

Sebagai satu komunitas, yaitu Komunitas ASEAN yang akan diresmikan 2015, seharusnya perkembangan negara ASEAN bisa berjalan selaras. Bergandengan tangan untuk memajukan negara masing-masing dan ikut berperan memajukan ASEAN.

Yang terpikir oleh saya ketika mendengar kata Laos adalah negara kecil, dan tim sepak bolanya selalu kalah dengan Indonesia. Hal yang paling saya ingat, adalah saat bisa mengalahkan Indonesia pada 2009. Kala itu, bertindak sebagai tuan rumah, Laos berhasil menggulung Indonesia 2-0 pada laga Grup B SEA Games XXV.

Berkas:La-map.png

Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur, Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau “Negeri Seribu Gajah”.

Jika dikatakan tertinggal dengan negara lain di ASEAN, Laos memang masih tertinggal. Namun, seharusnya Laos tidak hanya “punya” seribu gajah, tetapi juga punya seribu potensi. Lihatlah bentuk geografis negara ini, diselimuti hutan lebat yang kebanyakan bergunung-gunung, di mana salah satunya yang tertinggi adalah Phou Bia dengan ketinggian 2.817 m dari permukaan laut. Laos juga memiliki beberapa dataran rendah dan dataran tinggi.

Selain itu, potensi hadir di sebagian besar dari wilayahnya. Meski belum memiliki jaringan rel kereta api, mereka berencana membangun rel yang menghubungkan Vientiane dengan Thailand yang dikenal dengan Jembatan Persahabatan Thailand-Laos. Jalan-jalan besar yang menghubungkan pusat-pusat perkotaan disebut Rute 13, telah diperbaiki secara besar-besaran beberapa tahun terakhir. Hal ini terus dilakukan hingga desa-desa.

http://efenerr.files.wordpress.com/2013/08/asean_lotus_by_zemzelett-d46upv3.jpg

Bagaimana dengan jaringan telekomunikasinya? Meski Laos masih mempunyai telekomunikasi internal dan eksternal yang terbatas, namun penggunaan telepon genggam/handphone telah menyebar luas di pusat perkotaan. Actually, they have a lot potential!

Saya jadi ingat Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington pernah menyampaikan dalam pidato perpisahannya pada 17 September 1976 yang hingga saaat ini dikenang oleh banyak orang di dunia. Ia mengatakan:  “Cinta berlebihan suatu bangsa atas bangsa lain hanya akan mendatangkan berbagai keburukan”.

Pidato George Washington ini serasa sangat cocok untuk Laos. Sebagai sebuah negara, Laos harus lebih fokus dengan negaranya sendiri, jangan terlalu mencintai negara lain. Tapi Think globally, act locally. Bisa melihat potensi diri dengan mengadopsi cara atau sebuah sistem yang dipelajari dari negara lain.

Jika saya menjadi Presiden Laos, akan mempelajari juga menjalankan tiga pilar Komunitas ASEAN 2015 yaitu keamanan, ekonomi dan sosial budaya. Ketiganya adalah pilar penting dalam membangun sebuah negara menjadi negara yang besar.

Masyarakat Keamanan ASEAN berpegang pada prinsip-prinsip non-interfensi, pengambilan keputusan berdasarkan mufakat, ketahanan nasional dan regional, saling menghormati kedaulatan nasional, penghindaran penggunaan ancaman ataupun penggunaan ataupun kekuatan dan penyelesaian perbedaan maupun perselisihan secara damai.

Komunitas Ekonomi ASEAN adalah kepentingan bersama diantara Negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas usaha-usaha integrasi ekonomi melalui kerjasama yang sedang berjalan dan inisiatif baru dalam kerangka waktu yang jelas. Seperti yang dikatakan Presiden SBY dalam pidatonya di Indonesian Young Leaders Forum 2013: Meski dalam berbisnis selalu ada persaingan, ASEAN Economic Community adalah upaya bersama untuk mensejahterakan semua anggotanya. Oleh karena itu dalam ASEAN Economic Community tidak boleh ada gap yang terlalu antara satu negara dengan negara yang lain. Semuanya harus sejahtera. Laos juga akan membangun negara dan berperan untuk komunitas ASEAN.

Bidang Sosial Budaya menjadi pilar terakhir dalam Komunitas ASEAN 2015. Sesuai dengan pogram aksi Deklarasi ASEAN Concord, sebuah komunitas akan mempercepat kerjasama dalam pembangunan sosial yang ditujukan guna meningkatkan standar kehidupan kelompok yang dirugikan dan penduduk pedesaan, dan akan mencari keterlibatan aktif semua sektor masyarakat, khususnya kaum wanita, pemuda dan komunitas lokal.

Kerjasama internasional antar anggota komunitas ASEAN penting. Sebua negara juga harus bisa menjalani kerja sama dengan banyak negara. Laos harus melakukan itu. A million friends, zero enemy, itulah kalimat yang sering dilontarkan oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Praktikkan 3 pilar Komunitas ASEAN 2015, perluas jaringan internasional dengan konsep A million friends, zero enemy, ditindaklanjuti dengan melihat potensi diri akan menjadikan Laos tidak hanya menjadi seribu gajah, tetapi juga negara seribu potensi!

Referensi:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Laos
  2. http://the-marketeers.com/archives/4-pilar-asean-economic-community-2015.html#.UiIL3D9e2kw
  3. http://id.wikipedia.org/wiki/Perhimpunan_Bangsa-bangsa_Asia_Tenggara
  4. http://efenerr.wordpress.com

One thought on “Laos, Negeri Seribu Gajah, Seribu Potensi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s