Produk Lokal (Masih) Bisa Bersaing


Indonesian spa

Sebuah fenomena menarik, saat waralaba luar negeri mulai ekspansi masuk ke Indonesia. Waralaba dari Jepang seperti 7 Eleven, Yoshinoya, dan Lawson begitu agresif membuka gerainya di Indonesia. Dalam waktu dekat, Bonchon Chicken dan Family Mart juga akan melakukan hal yang sama. Itu dari Jepang, belum lagi merek-merek waralaba dari Malaysia. Merek waralaba seperti Bangi Kopitiam, Old Town White Coffee, dan Paparich, kini mulai bergerilya di pasar Indonesia. Tidak hanya Makanan, tapi negara asing sudah menjadikan Indonesia sebagai pasar yang mempunyai potensi dalam hal kecantikan dan penampilan. Bisnis waralaba salon dari Thailand sudah membidik pasar Indonesia. Lantas, apakah waralaba yang mempunyai sertifikat internasional apakah dapat menggeser atau bahkan menghapus pangsa pasar lokal? jawabannya belum tentu!

1) Kualitas; Bagi saya, pertama kali yang saya lihat sebelum membeli barang adalah kualitas barang tersebut. Saya dan juga pasti beberapa pelanggan beranggapan yang sama: rela membayar sedikit mahal, demi barang yang dibeli berkualitas. Ada beberapa waralaba di Indonesia yang berkualitas dan bisa berekspansi ke luar negeri. Lihat saja beberapa merek waralaba yang sudah mendunia seperti Es Teler 77, J.Co Donut and Coffee, Bumbu Desa, Ayam Bakar Mas Sono, Pecel Lele Lela, hingga Matahari. Tidak hanya makanan, Indonesia juga punya beberapa salon, resort atau spa berkelas internasional, meski masih memakai alat-alat tradisional. Sebut saja seperti Spa Bali Green yang memadukan unsur alam, tradisional dengan kualitas internasional. Juga tengok saja Puri Santi, tempat ini begitu kentara unsur tradisionalnya. Tidak ketinggalan, semua orang pasti mengenal dua “grup maut” membahana yaitu Martha Tilaar dan Mustika Ratu, jangan ditanya tentang kualitasnya. Kekayaan alam Indonesia memberikan pasokan obat, jamu hingga ramuan tradisional yang tidak kalah atau bahkan melebihi kualitas asing.

2) Manajemen; satu dari sekian hal yang wajib diperhatikan oleh para pebisnis adalah manajemen. Waralaba dari Amerika terkenal mempunyai manajemen yang bagus dalam mengelola waralaba, seperti McDonald dan KFC. Keduanya sangat jago dalam hal mengelola produk ayam dengan waktu yang begitu cepat, pelayanan ramah, dan sistem yang terkendali.

Itu juga seharusnya dilakukan oleh waralaba Indonesia yang berhubungan dengan salon, kecantikan dan spa. Sebagai contoh manajemen yang bagus itu seperti usaha Black Canyon Coffee dari Thailand. Pemerintah Thailand memprakarsai usaha waralabanya itu dari hulu ke hilirnya. Itu yang harus dicontoh pemerintah Indonesia. Negeri ini begitu kaya raya dengan kekayaan alamnya, tentu kita harus punya manajemen mulai dari hulu ke hilir. Dimulai dari petani, semua harus dikelola secara profesional, sehingga dengan manajemen yang bagus, petani bisa menghasilkan produk-produk alami yang baik dan bisa diteruskan kepada pengelola salon kecantikan dan spa di Indonesia. Saya begitu yakin tentang kualitas dari ramuan tradisional Indonesia belum ada duanya di Indonesia. Tinggal bagaimana memberikan manajemen yang baik. Dari hulu ke hilir.

3) Peran Pemerintah; Menurut penelitian, pertumbuhan waralaba asing meningkat sekitar 7% pada tahun 2013. Sedangkan franchise lokal hanya akan tumbuh sekitar 2% saja. Tentu fakta ini, harus segera direspon oleh semua kalangan pebisnis. Bagaimanapun, Saat ini Indonesia beserta negara-negara ASEAN lainnya sedang menyongsong Komunitas ASEAN 2015.  Akan ada interaksi langsung sesama warga Asia Tenggara. Ini jelas sebuah keuntungan bagi semua negara untuk bisa meluaskan usaha waralabanya ke negara-negara tetangga. Pemerintah harus merespon. Salah satu aturan yang dibuat pemerintah adalah adanya UU Anti-Monopoli  dan dibentuknya Komite Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sampai saat ini, peraturan anti-monopoli yang ada masih mengecualikan waralaba dari objek UU Anti-Monopoli karena waralaba dianggap sebagai salah satu bentuk bisnis kemitraan yang dimiliki oleh banyak pihak. Dengan dikecualikannya waralaba dari UU Anti-Monopoli, tak heran banyak perusahaan besar yang memilih pola waralaba ini sebagai salah satu alternatif jalur distribusi dan pengembangan usahanya. Semoga pemerintah tidak hanya memberikan peraturan untuk mengangkat waralaba ataupun produk-produk dalam negeri tetapi juga bisa menggiring perusahaan untuk bisa melakukan kontrol yang baik dari hulu ke hilir, dari mulai petani, distributor hingga pembuat ramuan tradisional.

Masyarakat Indonesia, tidak perlu takut hadirnya produk asing seperti menjamurnya salon-salon Thailand Indonesia. Percayalah! produk Indonesia, mulai makanan sampai salon kecantikan dan spa, masih bisa bersaing dengan produk asing jika memerhatikan 3 hal yaitu kualitas produk, manajemen yang bagus hingga peran serta pemerintah.

 

**referensi

http://bisnis.liputan6.com/read/525600/ri-bisa-contek-strategi-thailand-kembangkan-bisnis-waralaba

http://www.majalahfranchise.com/v2/opini/530-2013-franchise-asing-akan-lebih-tumbuh-di-indonesia.html

http://www.merdeka.com/uang/lima-waralaba-lokal-yang-mulai-mendunia/pecel-lele-lela.html

One thought on “Produk Lokal (Masih) Bisa Bersaing

  1. pak wahyu sekarang serius banget nulisnya
    berat banget bacaannya
    udah gak lepel sama gue
    tapi yang pasti gue suka nongkrong ke sevel *halah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s