Kuliah Tamu Prof. Pitoyo Hartono di Universitas Trunojoyo


Prof. Pitoyo Hartono saat mempresentasikan hasil penelitiannya di depan peserta kuliah tamu. (di Ruang RKB Multimedia/Conference)

Dalam rangkaian acara Dies Natalis X Universitas Trunojoyo, ISGOS (International Stadium Generalle on Soft Computing) mengadakan seminar Internasional (kuliah tamu) bertajuk “Application of Machine Learning to Adapative Robotics” yang disampaikan oleh Professor Pitoyo Hartono dari Univesitas Chuckyo  – Jepang (20/6). Dalam acara yang diadakan di gedung RKB A ini cukup menarik perhatian mahasiswa UTM khususnya mahasiswa fakultas Teknik. Seminar ini diadakan di dua tempat sekaligus yaitu di RKB Multimetia dan di RKB A / 1, khusus di RKB A/1 mahasiswa hanya bisa menyaksikan lewat tayangan langsung di layar lebar yang disediakan panitia, sedangkan Professor Pitoyo Hartono presentasi di Ruang RKB Multimedia.

Suasana saat di Ruang RKB A/1 yang menggunakan Layar LCD TV untuk menyaksikan kuliah tamu.

Tepat pukul 15.15 Wib Bapak Dekan Fakultas Teknik membuka acara dengan memberikan sambutan sekaligus mengenalkan sejarah awal mula berdirinya Universitas Trunojoyo khususnya Fakultas Teknik kepada Professor. Setelah sambutan, Pak Arif Muntasa sebagai moderator mempersilahkan Professor untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus melakukan kuliah tamu pertamanya di Universitas Trunojoyo. Pada awal presentasinya Professor menjelaskan kalau beliau lahir dan besar di Surabaya, tidak jauh dari Tanjung Perak jelasnya.

WABOT-1 (1973)

Pada slide awal powerpointnya, beliau menjelaskan tentang perkembangan robot dari tahun ketahun. Robot berawal dari sebuah penemuan Automaton di Swiss pada abad 17-19an. Tahun 1970-an robot berkembang pesat di dunia. Sedangkan pada tahun 1973 di Jepang tepatnya di Universitas Waseda, peneliti Jepang bernama Ichiro Kato membuat sebuah robot berbentuk manusia pertama di dunia. Pada saat itu, meski sudah berbentuk seperti manusia, tapi robot masih terlihat kaku dan perlu banyak waktu untuk melangkah. Professor Pitoyo yang juga alumni Universitas Waseda memutarkan video bagaimana ujicoba robot yang diberinama Wabot (Waseda Robot) itu.

WABOT-2 (1984)

Pada tahun 1980, Universitas Waseda mengenalkan Wabot 2. Robot ini dilengkapi kemampuan memainkan piano dengan sangat piawai, bahkan menurut Professor Pitoyo, robot ini bisa memainkan semua macam judul lagu. Video tentang Wabot 2 yang diputar saat presentasi sangat memukau peserta seminar. Di tahun 2000, robot berbentuk manusia di Jepang mulai bekembang pesat, salah satunya robot yang diberi nama “Aisya” sudah bisa mengikuti benda bergerak mulai dari gerakan mata, bentuk wajahnya sudah hampir menyerupai manusia dilengkapi dengan sensor berbentuk bola mata, gerakan leher hingga gerakan pinggang sudah mulai bisa dilakukan Aisya. Professor Pitoyo juga menjelaskan bahwa pada tahun 70-an di Jepang lagi gandrung pada robot mekanik, 80-an bergerak pada Information Processing, sekarang perkembangan robot lagi ngetren dengan penggabungan antara teknologi robot dan psikologi.

Membuat robot itu tidak mudah, setidaknya ada enam pokok yang harus kita kerjakan diantaranya activators, mechanical parts, sensor, power, controller, dan program. Keenam unsur pokok itu dihubungkan satu sama lain, dengan tambahan unsur AI (Artificial Intelligence) di dalamnya, robot akan jadi seperti kemauan kita. Professor mengatakan fokus penelitian beliau adalah bagaimana cara membuat morfologi (bentuk) robot dengan cara yang sedang populer saat ini yaitu Modular Robotics. Beliau ingin membuat terobosan bagaimana membuat robot dengan cara yang tidak konvensional.

Professor Pitoyo dengan semangat share ilmunya kepada peserta kuliah tamu

Dalam sebuah penelitian tidak terlepas dari sebuah ide. Begitupula dengan penelitian yang dilakukan Professor Pitoyo, ide beliau berawal dari sebuah fenomena kejadian unik di Kalimantan dimana saat itu ada kunang-kunang membentuk seperti tembok sepanjang 2 km hingga seolah seperti lampu neon raksasa sepanjang 2 km. Dari kejadian unik ini beliau beranggapan bahwa kunang-kunang itu berintegrasi satu dengan yang lain, dengan intensitas kedipan ‘lampu’ di kunang-kunang itu berbeda-beda tidak mungkin akan membentuk sebuah lampu neon raksasa tanpa integrasi satu kunang-kunang dengan yang lain, dan yang paling menarik adalah mereka (kunang-kunang) melakukannya sendiri tanpa disuruh (otomatis).

Berawal dari itu muncullah sebuah ide penelitian pembentukan morfologi robot secara otomatis yang beliau angkat ke sebuah papernya yang berjudul “Fast reinforcement learning for simple physical robots”. Di dalam paper ini beliau menjelaskan bagaimana robot modularnya bisa mencari morfologi terbaik untuk bisa berjalan dengan komunikasi yang dilakukan satu modul dengan modul yang lain. Saat presentasinya professor memutarkan video hasil pembuatan robotnya, para peserta terlibat perdebatan kecil dengan peserta di sampingnya maupun dengan dirinya sendiri tentang bagaimana kerja robot tersebut yang tidak biasa dan merupakan hal baru. Robot yang dibuat di Laboratorium Professor Pitoyo ini awalnya berjalan dengan tidak beraturan tebilang kaku, tapi selang beberapa menit setelah menemukan morfologi (bentuk) terbaiknya, robot akan berjalan sesuai dengan bentuk terbaiknya. Lebih sederhananya, Professor Pitoyo membuat sebuah robot yang bisa berpikir sendiri.

Saat ini beliau juga meneliti bagaimana mengimplementasikan neuron network dan self organization dalam pembuatan robot. Sehingga robot itu minimal bisa mengatur dirinya sendiri, seperti yang diputar dalam video, beliau membuat robot sederhana dengan tenaga surya dan sensor cahaya. Robot yang didesain menyerupai sebuah tank ini bisa mencari sinar matahari sendiri, setelah menemukan sinar matahari, secara otomatis robot akan otomatis berhenti dan menyimpannya dalam sebuah rechangeable battery. Sebaliknya jika robot berada dalam kegelapan tanpa sinar matahari, robot akan berjalan mencari sampai bertemu dengan sinar matahari. Professor Pitoyo mengatakan beliau biasa menaruh beberapa robotnya di tempat parkir kampus, di halaman kampus untuk keperluan riset, apakah robotnya bisa bertahan sampai berhari-hari tanpa bantuan manusia atau tidak. Beliau mengatakan kalau robotnya ada yang bertahan sampai dua minggu di halaman dan tempat parkir di Universitas Chukyo. Beliau menyimpulkan bahwa tidak ingin membuat robot sepintar manusia, tapi hanya ingin membuat robot sepintar lalat.

Pada piala dunia 2030, Jepang ingin mengirimkan tim sepakbola robot yang nantinya diharapkan bisa mengalahkan juara dunia seperti Brasil, Italia maupun Jerman. Tapi professor Pitoyo kurang setuju dengan ide ini, beliau lebih suka apabila robot bisa bermain bersama dan bekerja sama dengan manusia.

Di akhir presentasi beliau juga mengutarakan tentang tujuan terbesar dalam penelitiannya adalah pembuatan produksi (robot) berdasarkan evaluasi, training, dan self organizing. Jadi membuat robot yang bisa melakukan evaluasi, berlatih dan mengatur diri dengan otomatis. Bisa dikatakan kalau approach penelitian yang  Professor lakukan yaitu membuat pemikiran otomatis mirip dengan otak dalam sebuah robot.

Catatan: Baca juga postingan tentang topik yang sama tapi dibuat dengan gaya personal experience writing

3 thoughts on “Kuliah Tamu Prof. Pitoyo Hartono di Universitas Trunojoyo

  1. meskipun saya tidak sempat hadir, membaca postingan kamu membuat saya merasa takjubnya kuliah tamu itu,,,,sekarng yang saya rasakan hanya satu,,,menyesal akhirnya….tidak hadir kemarin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s