Bisa “Menikmati” Setelah Mengenalnya 4 Tahun


Pertama saya mengenal Linux ialah ketika masih SMK kelas 2, waktu itu saya dan teman-teman praktek menginstall OS (Operating System) yang disebut-sebut gratis tersebut. Kubuntu adalah distro Linux pertama yang saya install di komputer yang ada di Bengkel sekolah. Tampilannya lumayan bagus, dan menarik. di Kelas 3, siswa jurusan teknik komputer jaringan diajari konfigurasi jaringan dasar menggunakan Redhat 8. Waktu itu saya sudah mulai tertarik dengan konfigurasi di Jaringan menggunakan Linux yang katanya “tahan banting”. Meski caranya “tidak manusiawi” menggunakan terminal, tapi lama-lama mengasyikkan juga.

Awal kelas 3, saya ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti Lomba Kreativitas Siswa (LKS) tingkat Jawa Timur yang diadakan di Jember. Beberapa guru pendamping memberikan saya kisi-kisi tentang pelaksanaan lomba di sana. OS yang gunakan adalah Debian 4.0. Meski belum terlalu paham konsep konfigurasi jaringan di Linux, saya berusaha mempelajari itu semua dalam waktu singkat hanya satu bulan. Untuk konsep sudah mulai mengetahui pengertian dari apa itu DNS, DHCP, HTTP, Proxy, Web Server, dan Web Mail.

Masalahnya, seluruh pengaturan itu nantinya akan dilakukan menggunakan Debian 4.0 yang saya baru tahu distro Linux yang orang katakan salah satu distro terbaik untuk digunakan sebagai server jaringan komputer.  Sepulang sekolah saya tidak pulang seperti teman-teman lainnya, saya harus belajar konfigurasi jaringan komputer dengan Debian 4.0 mulai dari mengatur DNS, DHCP sampai Web Mail. Di sekolah saya mulai dari menginstall 2 keping DVD yang diberikan guru pembimbing untuk memulai berekperimen. Sebuah laptorp dengan menggunakan OS Windows disiapkan untuk menjadi client. Hari demi hari berjalan dan waktu sudah sangat mepet karena sudah dekat dengan hari-H, saya sudah bisa mengkoneksikan 2 komputer dengan beda OS dengan menggunakan Samba (salah satu packet yang disediakan Linux untuk berkomunikasi antar jaringan dengan Windows). Kemampuan saya cuma sampai situ, beberapa guru tidak bisa membantu karena mereka belum pernah menggunakan Debian 4.0 yang waktu itu baru saja dirilis, selain itu juga sumber pengetahuan sulit dicari, mulai dari internet sampai buku-buku sampai akhirnya berangkat ke Jember dengan bekal pengetahuan yang seadanya.

Hari pertama perlombaan  diawali dengan tes tulis. Saya berada dalam kelompok IT-PC Network. Saya masuk ke ruangan dengan percaya diri tentunya tidak lupa berdo’a agar semuanya lancar. Soal-soalpun mulai diberikan, dan waktu 120 menit digunakan untuk menyelesaikan 100 soal dalam bentuk bahasa Inggris. Sesekali guru pendamping saya, Pak Ulil memperhatikan saya dari luar ruangan.

Alhamdulillah! setelah hampir 120 menit saya akhirnya bisa menyelesaikan perlombaan hari pertama. Apa yang saya pelajari, kebanyakan keluar dalam soal.

Hari kedua perlombaan dilanjutkan dengan ujian praktek, komputer sudah disiapkan di ruangan dengan OS Windows, dengan membawa laptop untuk digunakan sebagai Client, saya memasuki ruangan perlombaan. Saya mulai kaget ketika Debian yang berikan panitia dalam bentuk 21 keping CD, dan yang bikin aneh bagi saya waktu itu adalah karena ketika menginstall satu keping CD saja, Debiannya sudah bisa jalan. Bisa ditebak, karena belum bisa memakai apt-get di terminal, akhirnya dengan menyesal saya gagal dalam ujian praktek ini.

Kegagalan inilah yang memicu saya untuk belajar lebih jauh tentang Linux, khususnya jaringan komputer menggunakan Linux. Setelah lulus SMK saya kuliah di Universitas Trunojoyo, di kampus saya bergabung Komunitas Linux Trunjoyo (KOELIT) di komunitas ini sedikit demi sedikit “misteri” yang belum diketahui saat lomba mulai terungkap. Tapi saya belum bisa bereksperimen menggunakan Linux, sempat beberapa nginstall Linux di Komputer kesayangan di rumah,  tapi kesulitan karena tidak bisa update repo disebabkan tidak adanya koneksi Internet di rumah.

Sekarang, saya berinisiatif membawa PC ke Laboratorium biasanya belajar Linux untuk di Install Blankon Ombilin 6 sekaligus update repo-nya juga! Setelah mengenal Linux 4 tahun, tapi baru kali ini bisa menikmati keunggulan Linux dengan segala kelebihan dan kekurangannya! Bravo Free Software!

4 thoughts on “Bisa “Menikmati” Setelah Mengenalnya 4 Tahun

  1. aslkum ka’ kegagalan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan dan semangat dan kekreatifan ka” patut diteladani dan teruslah berjuang tanpa adanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s