Maafkan kami, Merah Putih


Ilustrasi : Pengibaran Sang Saka Merah Putih saat MOS

CERPEN – Bendera Merah Putih tidak bisa dipisahkan dalam upacara, baik upacara bendera di sekolah hingga upacara peringatan HUT Republik Indonesia. Dalam rangka memperingati HUT-RI yang ke-56 ini saya jadi teringat pengalaman saya ketika menjadi pengibar bendera saat masih di bangku sekolah. Berikut kisah lengkapnya saya buat dalan cerita pendek (cerpen)

Maafkan kami, Merah Putih

Hari Senin di sekolah selalu diawali dengan upacara bendera. Setiap kelas bergantian menjadi petugas upacara. Waktu itu yang menjadi petugas upacara giliran kelas saya, 3 TKJ. Sebelum menjalankan tugasnya di hari senin, kami berlatih terlebih dahulu di hari Sabtu sebelum pulang sekolah. Kami tidak diperbolehkan pulang dari sekolah sebelum memantapkan latihan menjadi petugas upacara di hari seninnya.

Saya selalu kebagian sebagai pengibar bendera dengan dua teman lainnya, Iwan dan Devi. Sedangkan teman lainnya dibagi sesuai tugas yang diberikan wali kelas, ada yang menjadi pemimpin upacara, protokol upacara, sampai pembaca maskah Undang-Undang Dasar 1945, sisanya menjadi paduan suara yang akan menyanyikan beberapa lagu wajib. Pada sesi latihan kami melakukan beberapa pengibaran bendera untuk maematangkan persiapan sebelum hari senin. Setelah dirasa semua persiapan matang untuk menjalankan tugas sebagai petugas upacara hari senin, kami baru diperbolehkan pulang oleh wali kelas kami.

Waktu berjalan dengan cepatnya, indahnya mentari di ufuk timur menemani saya berangkat ke sekolah. Pagi itu saya berpakaian lebih rapi, dan berangkat lebih pagi karena akan menjadi petugas upacara, tidak etis rasanya kalau sampai petugas upacara terlambat, tidak ketinggalan topi saya bawa sebagai perlengkapan upacara.

Sesampainya di sekolah, teman-teman sudah siap di tempat biasa, tempat dimana petugas upacara biasanya bertugas. Kami menyiapkan segala sesuatunya seperti naskah UUD ’45, naskah pancasila, sampai bendera merah putih kita lipat. Bel sekolah sudah berbunyi, semua siswa langsung berbaris di lapangan sekolah, kami sedikit agak nervous karena takut gagal menjalankan tugas, tapi kami tetap optimis sebagai kelas unggulan di sekolah ini, kami harus tampil sempurna sebagai percontohan bagi adik-adik kelas kita. Semua siswa menempati posisinya masing-masing membentuk huruf L, di sebelah selatan ada siswa kelas 1 dan kelas 2, sedangkan kelas 3 berada di sebelah timur. Di tengah lapangan berdiri tegak tiang bendera.

Kami sudah berbaris sesuai dengan tugasnya di tempat biasa. Saya, Iwan dan Devi bertugas mengibarkan sang saka Merah Putih, Ferrel bertugas sebagai pemimpin upacara, untuk pembaca UUD’45 ada Husnul, Ochi bertugas membacakan do’a dan Faisol sebagai pembawa naskah Pancasila sedangkan sisanya menjadi paduan suara yang dipandu oleh Desi.

“Pemimpin upacara memasuki lapangan upacara”. Seru Wulan sebagai pembaca rangkaian upacara hari itu. Ferrel yang bertugas sebagai pemimpin upacara dengan tegap memasuki lapangan.

“Kepada, pembina upacara, hoorrmaaaaat grak!” Ferel memberi aba-aba agar memberi penghormatan kepada Pembina Upacara yang sudah memasuki lapangan upacara. Faisol sudah siap mendampingi di belakang pembina dengan naskah Pancasila.

“Pengibaran bendera Merah Putih diiringin lagu kebangsaan Indonesia Raya”, Instruksi ini bertanda saya, Iwan dan Devi bersiap membawa bendera ke tiang seraya mengibarkannya.

“Satu langkah ke depan, grak!, luruskan!, langkah tegak majuuu, jalan!” Devi memberi instruksi kepada Saya dan Iwan. Kami bertiga berhasil sampai di depan tiang dengan baik tanpa melakukan kesalahan. Kami bertiga sudah terbiasa sejak kelas 1, selain itu juga untuk baris-berbaris kita sudah punya modal pelatihan dari Polres Bangkalan, ketika mau mengikuti gerak jalan dalam rangka HUT-RI. Tali bendera kami ambil, Saya melihat ke atas tiang, memastikan tali siap dipasang pada setiap ujung bendera. Saya berdiskusi dengan berbisik kepada Iwan, agar mengikatnya dengan erat, karena tali yang ada di tiang sudah tidak ada pengait yang biasa digunakan untuk mengikat bendera.

Saya mengikatkan tali pada ujung bendera berwarna putih, sedangkan Iwan mengikatkan tali pada ujung bendera berwarna merah,

“Sudah erat, Wan?”, tanya saya kepada Iwan.

“Sudah!”, jawab Iwan.

Setelah tali kami rasa sudah erat, dan siap untuk dikibarkan, kami menghitung mundur,

“satu, dua, ti..” pada hitungan ketiga Iwan menarik ujung-ujung bendera sambil mengucapkan

”Bendera siap!”. Bendera terkibar dengan sempurna tidak ada kesalahan.

“Kepada bendera merah putih, Hooorrmaaaaat gral!” seru Ferrel dengan lantang.

Seluruh siswa mengangkat tangan kanannya dalam posisi hormat, semua siswa memperhatikan bendera yang kami kibarkan. Dilain sisi, teman-teman 3 KJ yang bertugas menjadi paduan suara mulai menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Semua hikmat memperhatikan pengibaran bendera merah putih. Saya menariknya dengan perlahan.

Bendera merah putih dengan gagah menghiasi pagi yang begitu indah. Sedikit demi sedikit ia menunjukkan kebesarannya dengan bergerak perlahan ke atas. Berkibar indah. Kami larut dalam penghormatan luar biasa terhadap bendera bangsa ini. Ada rasa bangga ketika kami berhasil mengibarkan bendera merah putih tanpa kesalahan. Saya hanyut dalam perasaan bangga yang membuncah di dada. Sesekali saya mendongak ke atas, melihat kibaran sang saka merah putih.

Tiba-tiba seluruh siswa berteriak kompak,

“Lhaaaaaaaaa!!”, tali yang saya tarik tiba-tiba terasa ringan, setelah melihat ke atas, bendera terlihat tersapu gravitasi meluncur ke bawah.

Kami bertiga dengan sigap dan tanggap berusaha menangkap bendera yang terjatuh. Ternyata tali yang terikat di bagian warna merah putus, dan mengakibatkan bendera terjatuh. Meski sempat terhenti beberapa detik, tim paduan suara tetap melanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga selesai. Suasana yang awalnya sepi dan hikmat mulai berubah menjadi gemuruh para siswa yang lain mengomentari kejadian di luar dugaan tadi. Saya dan Iwan malu, terdiam dan pucat masam, sambil melipat kembali bendera yang terjatuh. Kami ke tempat semula-pun dengan kembali membawa bendera.

Pada saat Amanat pembina Upacara, kami dikritik dan diberi saran agar tidak mengulangi lagi. Saya, Iwan dan Devi tertunduk malu dan kecewa, padahal kami hampir melakukannya dengan sempurna. Tapi terlepas dari tragedi tadi, secara keseluruhan kami menjalankan tugas dengan baik.

Setelah selesai upacara, para guru mengecek kondisi tali, kamipun menyarankan agar tali diganti karena sudah tidak ada pengaitnya, sehingga menyulitkan para pengibar bendera. Sejak hari itu tali yang ada di tiang bendera diganti dengan yang baru. Semoga kejadian memalukan tadi itu menjadi pelajaran bagi adik-adik kelas kami dan Maafkan kami Merah Putih!

5 thoughts on “Maafkan kami, Merah Putih

  1. cerpennya siip dah…
    manusia hidup dan belajar dari pengalaman, smoga pengalaman tadi menjadi pelajaran bagi siapa saja yang membaca isi dari cerpen ini, begitu juga negeri ini, yang saya pelajari dari pengalaman buku sejarah…para pejuang indo jatuh bangun berjuang menegakkan bendera merah putih yang setengah tiang berkibar itu…jadi, tetap semangat kawan kawan tanah air tercinta…negeri kita belum merdeka selama masing masing diri kita tidak memerdekakan diri dari sifat rakus akan kuasa,menang sendiri,korupsi,dan masih banyak sifat tercela yang tertanam dalam diri kita…
    sekian…
    goOd luck everyday….

  2. Saya turut prihatin Wahyu. Memang mengemban tugas mengibarkan bendera merah putih itu mengandung beban berat. Bahkan kawan-kawan Paskibraka di Istana Negara pun juga mengalami hal serupa. Antara kebanggaan, kesyahduan dan tratapan teraduk dalam hati. Hal-hal tidak diinginkan selalu mungkin terjadi, sebagaimana kawan-kawan kita di Manokwari kemarin, yang memasang terbalik bendera kita.
    Tapi terlepas dari semua itu, semangat menjunjung tinggi kemuliaan merah putih, jauh lebih penting mengalahkan “kesalahan” tidak sengaja kita🙂

    Salam bentoelisan

    Mas Ben

  3. hiahahahaha…. di skul ku juga pernah. tapi bukan tali benderanya yang putus. tapi, tali yang ada di tiangnya. padahal bendera sudah sampe di atas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s