Kedisplinan Seorang Pemimpin


https://i2.wp.com/realvisionhomes.com/images/stories/real%20estate%20punctuality.jpg

Tulisan ini sebenarnya merupakan suatu ungkapan keprihatinan jikalau melihat banyak pemimpin di sekitar kita kita yang sering tidak tepat waktu dalam menjalani tugas mulai sebagai seorang pemimpin. Sebagai pemimpin sudah menjadi keharusan bahkan kewajiban untuk menghargai waktu. Karena citra dan wibawa seorang pemimpin terlihat ketika sudah menghargai waktu.

Agama Islam sebenarnya sudah mengajarkan arti kedispilinan terhadap umatnya. Umat Islam wajib mengerjakan Shalat lima waktu dalam sehari semalam dengan waktu yang telah di atur oleh Agama. Shalat Subuh wajib didirikan sejak terbitnya fajar, dan berakhir jika sudah terbit matahari. Begitupun dengan Dhuzur, Ashar, Maghrib dan Isya’, masing-masing mempunyai waktu tersendiri. Ketika kita sudah melaksanakan perintah Shalat dengan benar, maka kedisiplinan shalat itu seharusnya terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika seorang yang memimpin suatu organisasi kecil maupun memimpin Perusahaan besar bahkan memimpin Negara.

Dalam memimpin, kita harus disiplin mulai dari hal-hal yang kecil. Seperti ketika ada janji atau rapat dengan bawahan untuk bertemu membahas suatu acara yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Jangan jadikan kedudukan sebagai ajang untuk bertindak semaunya sendiri. Hargai bawahanmu dengan datang tepat waktu dalam mengadakan pertemuan.

Ketepatan waktu (punctuality) bukan perkara kecil. Tidak semua orang bisa tepat waktu dalam menjalani profesionalisme sebagai atasan. Bayangkan saja ketika seorang Presiden ditunggu ratusan atau bahkan ribuan undangan yang hadir  akan kecewa gara-gara acara belum juga di mulai karena harus menunggu kedatangan seorang Presiden yang tidak tepat waktu.

Sebagai contoh penulis menceritakan kedisiplinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menjalankan tugasnya sebagai Pemimpin Negara yang ada dalam buku Harus Bisa! Karya Dr.Dino Patti Djalal.

Pada waktu itu Presiden sudah berjanji akan membuka ajang balapan bergengsi Internasional A1 Gran Prix Championship di Sentul. Presiden dijadwalkan mengibarkan bendera start tepat pada pukul 14.30 WIB. Setelah berangkat dari Cikeas, ternyata jalan menuju Sentul macet merayap. Jikalau tetep menggunakan mobil Presiden dipastikan akan telat. Presiden menyuruh Ajudannya agar disediakan jalan alternatif lain menuju Sentul. Kalau menggunakan helikopter, jalan sempit, belum ada persiapan dan tidak ada tempat pendaratan. Ajudan menyarankan agar Menpora saja yang membuka balapan, tapi SBY menolak karena ini skalanya Internasional, diliput oleh stasiun televisi Internasional. Setelah berpikir sejenak, SBY memutuskan untuk menggunakan walmot (pengawal motor) saja. Meski Ajudannya sempat tidak percaya karena memang tidak pernah ada contingency plan Presiden naik motor dalam situasi apapun, tapi dia dengan cepat melaksanakan tugas dari Presiden. Akhirnya Presiden tepat waktu sampai di Sentul dengan menggunakan walmot.

Sedikit cerita dari Presiden SBY ini semoga membuat para pemimpin muda di Indonesia dapat menghargai waktu, sehingga tidak ada lagi istilah ”H+1 jam”, ”biasa, Indonesia” dan tidak ada lagi penulisan jadwal rapat, jadwal pertemuan, ataupun jadwal seminar yang dikurangi satu jam, karena sudah dipastikan tidak tepat waktu.

One thought on “Kedisplinan Seorang Pemimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s