Menelusuri Sungai Bengawan Solo


Bengawan Solo

(Cipt. Gesang)

Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi…
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Dimusim hujan air..
Meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air meluap sampai jauh
Dan akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu…
Naik itu perahu

Itulah lirik lagu yang sangat melegenda di Indonesia dan dunia. Lagu ini sempat populer di beberapa negara terutama Jepang. awal mulanya para penjajah Jepang membawa pulang lagu ciptaan Mbah Gesang ini ke negeri asalnya, kemudian di nyanyikan dalam bahasa Jepang oleh beberapa penyanyi lokal di sana termasuk penyanyi Toshi Matsuda. Hal itulah yang menyentil saya untuk memilih susur sungai Bengawan Solo dalam acara SOLO (Sharing Online Lan Offline) pada 5-6 Juni 2010 di Solo kemarin. Mahsyurnya nama Bengawan Solo terus menghiasi pikiran saya ketika masih dalam perjalanan menuju sungai terpanjang di pulau Jawa itu bersama Basarnas – Surakarta.

Dalam pikiran saya sungai bengawan solo yang juga diabadikan dalam sebuah lagu yang sangat terkenal itu pasti merupakan sebuah sungai yang sangat indah dan cantik seperti lagunya yang konon telah di nyanyikan dalam 13 bahasa.

“Ketika mbah Gesang bercerita kepada saya, Mbah Gesang malu ketika disuruh menemani turis dari Jepang menyusuri sungai ini, karena turis asal Jepang itu mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa, lebih bagus lagunya daripada keadaan sungai sekarang”

Ketika berangkat dari Madura-pun, kalau mengingat Solo, pasti tujuannya Sungai yang mengaliri beberapa kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu, tetapi ketika tim Basarnas berhenti di sebuah Jembatan Besar dan menyuruh rombongan blogger menuruni jembatan dan berjalan melihat sungai Bengawan Solo dari dekat, tidak ada sesuatu yang istimewa dari sungai itu, seperti kebanyakan sungai lainnya, airnya berwarna cokelat dan alirannya tidak terlalu deras, di atasnya ada bangunan jembatan yang kokoh alat penghubung transportasi.

Jembatan penghubung transportasi di atas sungai

Tapi saya masih berharap ada sesuatu yang berbeda ketika saya menyusuri dengan perahu nantinya, tim SAR Surakarta yang menjadi pemandu kami rombongan blogger untuk menyusuri sungai Bengawan Solo, memberika sedikit briefing untuk mengetahui teknik dasar mendayung perahu sebelum terjun ke sungai. Setelah belajar mendayung di darat, dua buah perahu diluncurkan ke sungai yang dulunya bernama Waluyu itu.

Saya sangat menikmati saat pertama kalinya kaki saya menyentuh air sungai terkenal ini, setelah berada di atas air, tim SAR memandu kita cara mendayung yang baik, sedikit demi sedikit kita mulai paham cara mendayung yang baik, beberapa blogger tidak lupa untuk memotret keadaan di pinggiran sungai. Saya berada paling depan, sambil mendayung, saya melihat pemandangan sekitar sungai, sepanjang penyusuran tidak ada yang istimewa dari sungai ini, hanya ada beberapa jembatan penghubung transportasi kota. “Ketika mbah Gesang bercerita kepada saya, Mbah Gesang malu ketika disuruh menemani turis dari Jepang menyusuri sungai ini, karena turis asal Jepang itu mengatakan bahwa tidak ada yang istimewa, lebih bagus lagunya daripada keadaan sungai sekarang”, begitulah tutur salah satu tim SAR bercerita kepada blogger semua.

Tapi menurut saya pribadi, belum terlambat untuk memoles dan mengubah wajah sungai ini. Sungai ini punya sejarah yang panjang, dan saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika mendayung di sungai ini. Ini tugas Pemerintah setempat untuk melestarikan sekaligus mengubah wajah sungai ini menjadi tempat yang enak dan nyaman untuk dikunjungi, semoga ke depannya tidak ada lagi sampah yang ada di sepanjang sungai, tidak ada lagi cerita yang mengatakan bahwa sungai ini biasa-biasa saja.

Semoga ketika saya berkunjung ke Solo lagi, saya sudah bisa melihat sungai yang lestari dan indah, seindah alunan lagu Bengawan Solo yang sudah melalangbuana ke negeri Sakura – Jepang. Semoga!

12 thoughts on “Menelusuri Sungai Bengawan Solo

  1. Berlayar pake perahu karet diiringi lagu Bengawan Solo, bisa dibayangkan betapa nikmatnya ya🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  2. perhatian insani -> keroncongnya sudah menjadi perhatian daripada publik, semoga sungai bengawan solo juga mendapat perhatian daripada pihak terkait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s