“GNU/Linux” dalam paparan rinci Richard Stallman di Indonesia



Jakarta, Kamis, 29-10-2009 – Tokoh “Free Software Movement” Richard M. Stallman yang berkeahlian profesi IT sebagai seorang programer komputer handal lulusan universitas terkemuka MIT – AS juga dikenal selaku sesosok tokoh pembicara dunia komputer yang selalu bicara terus terang dan amat bersemangat apalagi apabila tengah mengutarakan gagasannya perihal Free Software Movement. Demikianlah tampilan Stallman yang berbicara dalam ceramah presentasi di Auditorium BPPT di Jakarta dengan topik : “The Free Software Movement and the GNU/Linux Operating System”. Sungguh menggembirakan melihat ramainya acara dikunjungi oleh mahasiswa dari berbagai kampus universitas di seputar Jakarta yang hadir berdampingan dengan hadirin dari BPPT dan Kantor Menristek selaku salah satu pendukung acara, yang agaknya pas kebetulan dilangsungkan sehari seusai event GCOS “Global Conference on Open Source” 26-27 Okt di tempat yang berlainan.
Dalam uraiannya Stallman menekankan perihal pentingnya agar para praktisi dunia TIK kini mulai menyadari dalam setiap kali untuk selalu menyebutkan sistem operasi Linux dengan istilah lengkap “GNU/Linux” tidak hanya sebatas OS “Linux” sebagaimana yang biasa terdengar hingga sekarang. Pembaharuan penyebutan istilah yang tidak hanya sebagai langkah pengakuan kredit point terhadap sistem lisensi publik gratis gagasan Stallman dkk yang kemudian diaplikasikan sebagai penanda aplikasi OS Linux yang bersifat sungguh-sungguh free software. Yang memunculkan istilah copy left sebagai kebalikan copy right.

Uraian Stallman dengan amat rinci serta historis meruntut perihal filosofi dan histori gagasan munculnya lisensi publik GPL : GNU General Public License yang membebaskan pengguna komputer untuk sama sekali bebas sepenuhnya dalam menggunakan, menyebarluaskan, berbagi dan memodifikasi piranti lunak komputer. Lisensi publik GNU selain mengisyaratkan bebas dalam penggunaan aplikasi komputer juga mempersyaratkan agar pembuatnya menyertakan uraian lengkap bahasa kode program piranti lunak secara terbuka agar dapat dimodifikasi.

Dasar-dasar “GNU/Linux” memuat 4 (empat) prinsip, yakni kebebasan untuk menjalankan program piranti lunak komputer : “the freedom to run the program, for any purpose (= freedom 0)” ; ditambah dengan 3 (tiga) prinsip lain yakni : kebebasan untuk mempelajari bagaimana proses aplikasi berjalan dan mendapat akses untuk memodifikasi sesuai kebutuhan, kebebasan dalam menyebarluaskan, kebebasan untuk memodifikasi untuk perbaikan aplikasi yang dapat kembali melakukan berbagi kepada khalayak atau pengguna lainnya.

Dijelaskan pula dengan apa adanya terdapat jurang perbedaan prinsip antara lisensi publik GNU dengan konsepsi pengembangan OS Linux yang dianut Linus Torvalds selaku tokoh yang menyumbangkan rekayasa rancangan kernel yang kemudian menjadi OS Linux (1991). Diingatkan oleh Stallman sebelum sepenuhnya menganut lisensi publik model GNU, maka OS Linux pada tahap awal perkembangan tahun 1990-an sempat pernah tidak benar-benar bebas dalam penggunaannya, berhubung sebagian ada yang dimodifikasi ataupun dipadukan atau bundled dengan aplikasi yang mengandung jenis lisensi berbayar ataupun lisensi firmware Red Hat yang berubah menjadi komersial dengan menyisakan Fedora selaku turunan versi gratis. Diuraikan pula bahwa gerakan Stallman dkk dalam Free Software Movement adalah berkeinginan sepenuhnya benar-benar menjunjung tinggi konsepsi “freedom” dalam penggunaan aplikasi komputer adalah berbeda haluan pada sejumlah prinsip gerakan Open Sources.

Selaku sosok idealis yang bicara lantang dengan bahasa apa adanya, Stallman tidak luput mengkritisi Pemerintah negeri AS sendiri yang menghamba pada perusahaan industri IT besar yang menina bobokkan rakyat hingga tampak wajar untuk selalu tergantung pada sistem operasi komputer tertentu yang berlisensi komersil. Seraya menyelingi dengan beberapa patah kata Bahasa Indonesia “gotong royong” = sharing, ditegaskan Stallman dalam penggunaan komputer di negara berkembang seperti layaknya Indonesia; agar Pemerintahan berupaya untuk menghindar sekuat tenaga dari ketergantungan aplikasi lisensi berbayar yang dikuasai perusahaan multi nasional asing dan pentingnya untuk beralih menggunakan OS “GNU/Linux” gratis tanpa perlu membayar.

Diingatkan bahwa dana Pemerintah sepenuhnya bersumber dari kutipan uang rakyat hingga selayaknya dipergunakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan seluruh khalayak dan bukannya untuk kemakmuran pihak tertentu saja. Tidak lupa pula dititipkan pesan agar dunia pendidikan di tanah air agar tidak mudah terlena dengan aplikasi lisensi berbayar dengan harga yang dibuat murah yang seolah menawarkan segala kemudahan padahal dibaliknya tersembunyi kepentingan bisnis industri global.

Strategi industri pembuat aplikasi yang dalam jangka panjang berdampak akan dapat menumpulkan daya nalar kritis khalayak terdidik hingga lagi-lagi tak kunjung berhenti selalu bergantung kepada aplikasi berlisensi komersil. Penggunaan aplikasi model “GNU/Linux” akan menjamin tergugahnya proses belajar dan saling gotong-royong dalam pembelajaran ilmu pengetahunan untuk menjadikan insan dunia pendidikan di tanah air menjadi pintar dalam menghadapi tantangan kehidupan dan kompetisi antar bangsa dalam Abad Sains masa kini.

sumber : igos.web.id

One thought on ““GNU/Linux” dalam paparan rinci Richard Stallman di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s