Menggocek Laba dari Merchandise Klub Sepak Bola


Diakui atau tidak, sepakbola telah menjadi bisnis yang cukup menggiurkan. Banyak peluang bisnis yang kita kembangkan di seputar sepak bola. Salah satunya merchandise atau pernak pernik klub sepak bola ternama. Banyak suporter mencari barang ini. Jelas, ini peluang Bisnis yang menjanjikan.

Sepakbola merupakan olahraga yang sangat populer di dunia. Anak-anak hingga orang tua menyukai olahraga satu ini. Penggemarnya yang bejibun dan tersebar di seantero dunia itu, menjadikan sepakbola lebih dari olahraga. Kini, sepak bola telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan.

Salah satu bisnis yang berkembang pesat di seputar sepak bola adalah pernak pernik atau atribut (merchandise) Atribut sepakbola yang paling gampang kita temui adalah’ kaos berlogo kesebelasan tertentu. Banyak toko menjajakan kaos klub-klub besar dunia, khususnya klub Eropa.

Namun, masih jarang kita menemui toko menjual kaos kesebelasan lokal. Padahal, kebutuhannya tidak sedikit. Dengan jeli, Daeng Uki menangkap peluang ini. Ia membuat pernak pernik yang dibutuhkan para suporter Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM).

Ia mulai menekuni bisnis ini sejak 2004 lalu. Modal awalnya hanya Rp 500.000. Modal ini ia menggunakan memesan 30 kaos. Daeng kemudian menyablon kaos itu dengan gambar dan tulisan bertema PSM. Dalam sekejap, kaos buatannya ludes dibeli suporter PSM yang berjuluk The Macz Man.

Belakangan, Daeng tidak hanya membuat kaos, tapi juga merchandise lain, seperti stiker, gantungan ID Card, PIN, dan syal. Khusus untuk bahan rajutan syal, Daeng memesan dari Malang dan Bandung. “Di Makassar belum ada yang bikin dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Seiring perkembangan zaman, desain pernak pernik buatan buatan Daeng semakin bervariasi. “Kini, saya bikin yang mirip-mirip distro,” ajarnya. Hasilnya, tak hanya para The Macz Man yang puas, masyarakat Makassar secara umum pun mulai menggemari atribut karya Daeng.

Harga pernak pernik buatan Daeng bervariasi. Harga kaos, misalnya, Rp 30.000, syal Rp 40.000, stiker Rp 5.000, gantungan ID card Rp 1.000, dan PIN Rp 5.000. Uniknya, dari setiap pernak pernik yang terjual, Daeng mendonasikan Rp 1.500 untuk klub PSM. “Ini wujud kecintaan saya terhadap PSM. Keuangan mereka kan enggak selalu bagus,” ujarnya. Di luar itu, Daeng juga berjualan gelang bertuliskan “Save for PSM” seharga Rp 10.000 untuk mendukung dana klub itu.

Daeng mengaku, bisnisnya tidak selalu ramai. “Penjualan saya meningkat kalau PSM sedang banyak pertandingan, apalagi kalau sering menang,” katanya. Saat musim liburan sekolah juga menjanjikan peruntungan lumayan.

Bila penjualan sedang ramai, dalam sebulan, omzet Daeng mencapai Rp 5 juta. Jika sedang sepi omzet Daeng hanya sekitar Rp 3 juta per bulan. Dari omzet sebesar itu, Daeng mencuil laba sekitar 5 persem-7 persen. (Kontan/Anastasia Lilin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s